“Saya tidak mengira finis di posisi kedua dan pulang membawa medali. Karena target saya bukan medali. Tapi, hanya bermain lebih baik dari turnamen-turnamen yang pernah saya ikuti pada waktu sebelumnya.”

Demikian jawaban Elaine Widjaja dalam keterangan tertulis kepada GolfJoy terkait dengan keberhasilannya merebut tempat keduadi ajang kompetisi  5th Olympic Jabar Amateur Open,yang berlangsung di Gunung Geulis Golf & Country Club (West Course) pada 15-17 Juni 2021.

Keberhasilan pegolf kelahiran Semarang 2006 itu merebut posisi kedua dengan total skor 222, membuktikan bahwa di era pandemi seperti sekarang ini siapa pun bisa mengukir prestasi selama ada turnamen sebagai ajang persaingan.

Seperti kita ketahui bahwa segala bentuk aktifitas masyarakat di negeri ini memang nyaris “lumpuh” total – termasuk kegiatan olahraga dan khususnya golf sejak 2019 lalu. Turnamen yang telah dirancang jauh-jauh hari sebelumnya oleh para pemangku kepentingan atau stake holder olahraga golf di republik ini terutama sebelum pandemi Covid – 19 melanda seluruh dunia termasuk di Indonesia, pun harus mengalami penundaan yang tak jelas kapan berakhirnya.

Beruntunglah Pengprov PGI Jawa Barat berani mengambil inisiatif untuk menggelar kembali turnamen berskala nasional bertajuk  5th Olympic Jabar Amateur Openyang sempat tertunda gara-gara pandemi Covid – 19. Ternyata perhelatan yang digelar di West Course Gunung Geulis Golf & Country Club pada 15-17 Juni 2021 lalu, dan diikuti oleh pegolf amatir terbaik dari 17 Pengprov, 16 Klub serta beberapa perkumpulan golf yang terdaftar di PB PGI tersebut – berjalan lancar tanpa hambatan sejak hari pertama hingga hari ketiga (final).

Mentaati Prokes

Kita tahu bahwa yang namanya virus corona memang benar-benar tak kasat mata, sehingga seluruh peserta baik para pemain maupun official tidak ada seorang pun yang menolak saat mereka diwajibkan mengikuti test antigen. Mereka mentaati Protokol Kesehatan Covid – 19 yang sangat ketat yang diterapkan oleh panitia penyelenggara.

Dan, test antigen tersebut tak hanya dilakukan sebatas ketika seluruh peserta akan turun ke lapangan sejak hari pertama hingga hari ketiga (final); Karena, sehari sebelum kompetisi dimulai pun yakni ketika seluruh peserta yang akan tampil bersaing dalam turnamen OJAO Series #5 mencoba lapangan atau practice round, test antigen hukumnya adalah wajib!

Meskipun apa yang mereka alami di ajang OJAO Series #5 belum pernah mereka temui pada waktu-waktu sebelumnya, namun mereka tetap antusias menerima realitas tersebut. Bahkan begitu mereka mendengar kabar Pengprov PGI Jawa Barat akan menggelar turnamen OJAO Series #5 yang sempat tertunda – mereka segera menambah porsi latihan mereka. “Untuk menyambut OJAO ke-5 saya mempersiapkan diri sekitar tiga minggu. Saya latihan di Gombel Golf Course. Kadang sendiri kadang bermain bersama Ayah saya. Selain bermain di Gombel saya juga berlatih di driving range,” ungkap Elaine. “Saya sering ditemani pak Sugiman dan pak Suprapto. Tapi, untuk OJAO ke-5 saya ditemani oleh Ayah saya,” tambahnya.

Keberhasilan Elaine Widjaja menduduki tempat kedua di OJAO Series #5 mendapat apresiasi dari Ketua Pengprov PGI Jawa Tengah, Kukrit Wicaksono, dan Sekretaris Umum Pengprov PGI Jawa Tengah, Mulyono Hadi. “Pak Kukrit dan pak Mulyono memberikan dukungan agar saya semakin maju terus depannya,” kata Elaine, menegaskan.

Skor di atas 100

Anak pertama dari tiga bersaudara yang saat ini masih duduk di kelas 10 Bina Bangsa School, Semarang, ini mengenal olahraga golf sejak berusia 10 tahun dari Ayahnya yang dikenal sebagai seorang pegolf di ibukota Provinsi Jawa Tengah tersebut. Selain golf, Elaine juga menyukai olahraga tennis, ping pong dan bulutangkis. “Saya juga hobby membaca,” tegas Elaine.

Seperti pegolf umumnya, Elaine pun punya pengalaman yang tidak bisa dilupakan sepanjang hayatnya. “Waktu untuk pertama kalinya saya mengikuti turnamen dalam event Indonesia Junior Amateur Open yang berlangsung di Gombel Golf Course, skor yang saya bukukan di atas 100 he he he …” katanya sambil tertawa.

Tapi Elaine sadar bahwa itu adalah sebuah proses sekaligus ujian. Ternyata, setelah kejadian tersebut, dia justru semakin terpacu semangatnya untuk terus berlatih. Sehingga dalam perjalanan karirnya di kemudian hari sebagai pegolf, setiap kali mengikuti turnamen golf berskala nasional dan internasional yang diselenggarakan di kota-kota besar di seluruh Indonesia, Elaine tak pernah pulang tanpa membawa piala dan medali.

Menjawab pertanyaan bagaimana cara mengatur waktu antara pelajaran di sekolah dan golf, Elaine mengungkapkan bahwa para guru mengerti kalau dia pegolf dan sering mengikuti turnamen sehingga para guru mengijinkannya untuk absen. “Para guru sangat mendukung prestasi saya di golf dengan memberi materi atau mata pelajaran yang saya lewati,” katanya sambil menambahkan bahwa penghargaan yang diperolehnya di golf berupa piala dan medali semuanya disimpan di rumahnya.

“Siapa ladies golfer idola Elaine?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Elaine Widjaja segera menyahut: “Saya sangat mengidolakan Nelly Korda. Selain memiliki swing yang sangat rapih, prestasi Nelly Korda pun sangat banyak …”

Oleh karena itulah maka menjadi sangat wajar ketika di akhir wawancara tertulis GolfJoy menanyakan apa cita-citanya, Elaine Widjaja secara tegas menyatakan ingin menjadi Pro Ladies seperti Nelly Korda yang, selain banyak memenangkan kejuaraan juga untuk membanggakan orangtua.

(Teks oleh Toto Prawoto & Foto Dokumentasi Pribadi)

DOWNLOAD E-MAGZ GOLFJOY TERBARU GRATIS!

GolfJoy Cover