Ika, sapaan akrab MC golf, ini, ternyata putri seorang pesinden. Mimin Aminah – ibunda Ika – pada masa mudanya dikenal sebagai pesinden di Tanah Pasundan khususnya di Kabupaten Bogor dan sekitarnya dalam acara resepsi pernikahan yang sangat kental dengan tradisi Sunda termasuk saweran-nya.

“Saya anak pertama dari empat bersaudara, dan saya adalah salah satu anak dari pasangan suami -isteri Kosasih Idja Suhardja (Ayah) dan Mimin Aminah (Ibu), yang menekuni pekerjaan sebagai seniwati,” katanya. “Selain darah seni dari Ibu mengalir deras dalam diri saya, sejak kecil saya pun sering mendengar almarhum ayah dan ibu saya berkaraokean di rumah.” tambahnya.

Ika mulai menekuni profesi sebagai penyanyi sekaligus master of ceremony pada 2012 – sampai sekarang. Dia juga pernah masuk dapur rekaman. Lagu yang dibawakannya adalah lagu-lagu pop. “Tapi tidak berlanjut karena penyandang dananya tiba-tiba ada masalah dengan keuangan,” ujar Ika, mengenang.

Apabila rekan sesama profesi mengalami banyak suka dan duka dalam  menggeluti dunia hiburan yang menjadi pilihan hidupnya. Kepada GolfJoy, Rieka, mengaku lebih banyak “suka”-nya daripada “duka”-nya, karena bisa menghibur orang dan meramaikan suasana. “Sungguh .. saya sangat suka dengan profesi yang saya jalani dan happy .. Duka? Enggak ada eh, Mas,” katanya.

Ibu dari dua orang anak (laki-laki dan perempuan masing-masing berusia 10 dan 3,5 tahun) ini mengaku bahwa dia mendapat support dari keluarga besarnya terutama dan khususnya dari suami dan kedua anaknya.

Ika mengaku bahwa kedua anaknya memiliki talenta seperti nenek dan ibunya. “Tanda-tandanya mereka senang sekali berkaraokean – seperti yang pernah saya temukan pada saat saya masih kecil ketika almarhum ayah dan ibu saya karaokean di rumah,” katanya.

Menjawab pertanyaan mengenai letak perbedaan antara MC umum dan MC Golf, Rieka Herastuti – yang tidak lain adalah alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Jurusan Manajemen Ekonomi Angkatan 38 yang lulus pada 2005 – ini, mengatakan bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan antara MC umum dan MC Golf.

“Salah satunya, saya, sebagai MC Golf, dituntut harus banyak belajar dan jangan merasa sungkan atau malu untuk bertanya kepada orang yang ahli dan memahami benar tentang istilah-istilah yang ada di olahraga golf … Alhamdullilah sejak 2012 sampai sekarang saya masih dipercaya oleh komunitas golf yang ada di Jabodetabek untuk nge-MC-in kegiatan yang mereka selenggarakan,” Ika menuturkan – tapi dia menolak saat ditanya berapa fee yang diterimanya sebagai MC Golf sekaligus sebagai penyanyi.

Ibu dari dua orang anak ini menegaskan bahwa tampil memandu acara golf benar-benar enjoy. Karena, dia tetap bisa tampil optimal sesuai dengan tema dari turnamen golf itu sendiri. Sebagai contoh, Ika pernah tampil mengenakan kostum seperti cowboy dalam turnamen yang diselenggarakan Majalah GolfJoy bertema Zorro – dengan celana jeans yang sobek di bagian kedua lututnya. Yang terbaru dia tampil tak ubahnya seorang feminis ketika Majalah GolfJoy menyelenggarakan turnamen bertajuk BRI Brizzi – BMW Tunas Trophy.

Sementara kalau tampil menjadi MC di luar golf, Ika harus patuh terhadap S.O.P yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara. “Ada perbedaan yang sangat mendasar … Tapi secara umum ada kesamaan. Yakni saya harus bisa menghidupkan suasana agar para tamu undangan terhibur,” kata Ika, menegaskan.

“Apa yang Teteh harapkan untuk masa yang akan datang?”

“Sebagai seniman semoga saya tetap bisa terus berkarya. Dan, sebagai ibu rumah tangga semoga saya bisa terus membimbing dan membesarkan anak-anak dengan baik serta memberikan pendidikan yang baik hingga anak-anak sukses,” jawab alumni IPB ini mengakhiri obrolannya bersama GolfJoy.

(Tulisan & Foto oleh Toto Prawoto)