Cabang olahraga (cabor) golf bersama sembilan cabor lainnya yang dicoret dari daftar cabang yang dipertandingkan dalam ajang multievent Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2020 Papua terus berjuang agar cabor mereka bisa dipertandingkan di PON, meski tidak di Papua.
Sayangnya, upaya ini terbentur oleh Peraturan Pemerintah (PP) No. 17 Tahun 2007 di mana PON hanya boleh digelar di satu daerah. Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua Umum PB. PGI Agus Suhartono saat meninjau kesiapan tim pelatnas SEA Games XXX/2019 di National Golf Institute (NGI) Cimanggis, Depok, Sabtu (9/11).
Baca juga: Sembilan Pegolf Berangkat ke Filipina untuk Tes SEA Games 2019
“Sepuluh cabor yang tidak diikutkan dalam PON Papua sedang memperjuangkan untuk tetap dipertandingkan meskipun tempatnya bukan di Papua. Kendalanya adalah, ada peraturan pemerintah yang mengatur bahwa PON hanya dilakukan di satu daerah,” ujar Agus.
Oleh karena itu, usulan yang sedang digodok adalah merubah peraturan pemerintah tersebut agar tuan rumah PON bisa dilaksanakan di dua daerah. “Kalau itu sudah direvisi, sangat mungkin 10 cabor (yang dicoret) dilaksanakan di luar Papua tapi tetap merupakan bagian dari PON 2020. Dan jika tidak disetujui dalam waktu dekat maka kita mengusulkan 10 cabang ini tetap dipertandingakan di luar Papua meski tidak menjadi bagian dari PON. Dan ini akan terus kita perjuangkan,” lanjut mantan Panglima TNI ini.
Seperti diketahui dalam SK (Surat Keputusan) mengenai penetapan jumlah cabor PON XX/2020 yang dikeluarkan pertengahan Oktober lalu, sebanyak 37 cabor akan dipertandingkan dalam PON. Di sisi lain, ada 10 cabor yang sebelumnya akan dipertandingkan jutsru dicoret dalam daftar. Cabor yang dicoret diantaranya Balap Sepeda, Ski Air, Bridge, Woodball, Gateball, Golf, Soft Tenis, Tenis Meja, Dansa dan Petanque.
“Tentu kita sangat meyayangkan hal ini. Sebelumnya kita sudah berupaya mendekati KONI dan pemerintah daerah untuk bisa ikut di PON. Namun alasan tidak dipertandingkannya golf adalah faktor kesiapan lapangan. Jika lapangan tidak memenuhi standar prestasi, ya lebih baik silakan dicoret tapi kita tetap bermain di luar Papua,” jelas Agus.
Saat ditanya tenggat waktu revisi PP, Agus mengaku belum bisa memastikan. Namun dia berharap keputusan 10 cabor lain bisa dipertandingkan di luar Papua akan terus diperjuangkan bersama cabor lainnya.
“PON akan dilaksanakan pada 2020, kita akan terus bekerja. Kita berjuang bersama 10 cabor lain, tidak sendiri, maju bersama. Kita sudah berkumpul mengajukan saran dan dorongan. Mudah-mudahan minggu depan kita bisa bertemu dengan Menpora dan menyampaikan hal ini. Dan mudah–mudahan ada jalan keluar,” pungkasnya.
Sebelumnya, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat diberitakan akan menggelar event alternatif bagi 10 cabor yang batal dipertandingkan pada perhelatan PON XX di Papua tahun 2020 mendatang. PON XX/2020 Papua sendiri rencananya akan digelar mulai 20 Oktober sampai 2 November 2020 mendatang.
