FeaturedKomunitas

Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf Batch XVI Diikuti Banyak Pegolf Muda

SELAMA tiga hari berturut-turut PGA Indonesia menyelenggarakan event yang dimulai dengan menggelar Playing Ability Test atau Tes Kemampuan Bermain pada Senin (26 Mei 2025) di Pondok Cabe Golf, kemudian dilanjutkan dengan acara Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf yang berlangsung di Gedung Yos Sudarso Padang Golf Pangkalan Jati pada Selasa (27 Mei 2025) dan Rabu (28 Mei 2025).

Playing Ability Test yang berlangsung di Pondok Cabe Golf diikuti oleh 12 pegolf; Akan tetapi salah seorang peserta mengundurkan diri menjelang tes kemampuan bermain bagi pegolf amatir yang akan beralih status menjadi pro tersebut  berlangsung.

Para pegolf amatir yang akan beralih status menjadi pro tersebut bermain sebanyak 36 hole di ajang persaingan PAT,  dan Deri Haryadi adalah satu-satunya pegolf amatir yang lolos dari Playing Ability Test yang berlangsung di Pondok Cabe Golf.

Setelah lolos PAT, Deri terus melanjutkan partisipasi aktifnya dalam acara Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf. Dan, beberapa peserta yang tidak lolos PAT pun mengikuti jejak Dedi. Bahkan seorang pegolf amatir bernama Eko Yudhianto yang lolos PAT pada 2023 pun ikut serta pada acara tersebut, karena Eko memiliki masa tenggang waktu selama 2 tahun, dan baru pada 2025 ini Eko  mengikuti Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf yang diselenggarakan oleh  Professional Golf Association Indonesia (d/h PGPI – Persatuan Golf Profesional Indonesia).

REKOR

Seperti diketahui bahwa acara Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf tahun ini diikuti sebanyak 26 pegolf yang berasal dari Jakarta, Aceh, Riau, Batam, Lampung dan Sulawesi Selatan.

Bahkan manajemen Padang Golf Pangkalan Jati pun mengirim 6 orang  karyawannya  terdiri dari 3 pria dan 3 wanita untuk mengikuti acara Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf Batch XVI. 

Sehingga — diakui atau tidak — hal tersebut merupakan rekor, karena sejak PGA Indonesia menggelar acara Sertifikasi dan Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf pada tahun 2018, baru untuk pertama kalinya pada tahun ini — ibarat sebuah turnamen — kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 10 “pairing group”.

Sesuai namanya, para peserta yang ikut dalam acara tersebut, selain diikuti oleh pegolf amatir yang 2 orang di antaranya adalah atlet golf PON asal Sulawesi Selatan yang akan beralih status menjadi pegolf profesional, juga diikuti oleh pegolf profesional anggota PGA Indonesia yang telah habis masa berlaku kartu anggota milik mereka sebagai pengajar golf yang lazim disebut dengan Teaching Pro.

SISTEM YANG BERKELANJUTAN

Perlu diketahui bahwa acara Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf Batch XVI tahun ini banyak diikuti oleh pegolf amatir berusia muda.

“Sebagai Ketua PGA Indonesia saya senang sekali karena banyak pegolf amatir yang mengikuti kegiatan ini,” kata Ketua Dewan Presidium PGA Indonesia Agus Triyono saat Media GolfJoy menanyakan mengenai antusias para pegolf amatir yang mengikuti sertifikasi. 

“Kami memang ingin membangun ekosistim yang berkelanjutan agar pembinaan di lingkungan pegolf junior, amatir di daerah-daerah di seluruh Indonesia dilatih oleh pelatih bersertifikat,” katanya.

“Kemudian .. setelah nanti mereka terpilih untuk mewakili daerah mereka masing-masing dalam event berskala nasional seperti PON, mereka bisa berkontribusi ke daerah asal mereka melalui prestasi yang mereka torehkan, dan setelah beralih status menjadi pegolf profesional, prestasi mereka pun saya harap terus meningkat,” tambahnya.

Agus Triyono menegaskan bahwa dengan adanya ekosistem yang berkelanjutan serta kerjasama dengan para stake holder seperti pengurus Klub, Pengkab, Pengkot, dan Pengprov PGI di seluruh Indonesia, maka KONI di tingkat Kabupaten, Kota dan Provinsi diharapkan di kemudian hari tidak perlu lagi transfer pemain dari daerah lain untuk tampil —  baik di ajang Porda, Porprov maupun di Pekan Olahraga Nasional.

SEJARAH HINGGA SWING CHARACTERISTIC

Acara Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf yang berlangsung selama dua hari berturut-turut  mengangkat topik yang beragam dan aktual seperti Sejarah Golf Indonesia, Tata Cara Memberi Lesson, Rules of Golf, Club Fitting, Hukum Prinsip & Pilihan Teknis, dan Swing Characteristic & Video Analysis.

Para pembicara yang membahas masalah topik tersebut terdiri dari 5 orang narasumber yang sangat berpengalaman di bidangnya masing-masing seperti Agus Triyono, Wahyu Hendarman, Aditya Eduardo, Jonner Sitepu dan Zulharmen Tabusalla.

Dalam perbincangan  bersama Media GolfJoy, beberapa orang peserta mengaku senang sekaligus beruntung dan sangat bersyukur, karena mendapat pengalaman yang sangat berharga dari topik yang dibahas oleh para narasumber yang sangat menguasai di bidang mereka masing-masing.

“Terus terang saja saya tidak melakukan persiapan sama sekali sebelum untuk pertama kalinya saya tampil mengikuti PAT,” kata Pau Siong dari Batam. “Karena saya setiap hari main golf,” tambah pegolf amatir yang konon kabarnya akan membangun Driving Range di Batam tersebut, sambil tersenyum.

Pau Siong bersama dua orang rekannya hadir tak hanya untuk tampil bersaing di Playing Ability Test (PAT) tapi juga untuk mengikuti acara Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf.

Sementara Rudi Anto — Pro asal Riau yang akan melanjutkan karirnya sebagai Teaching Pro — pun mengaku mendapat pengalaman yang sangat berharga yang akan diaplikasikannya kelak pada saat dia telah menyandang status sebagai pengajar golf.

“Tapi, maaf, saya gaptek, Mas,” ujar Rudi Anto, “Puja Kesuma” kelahiran Tarutung yang sangat aktif mengikuti turnamen yang diselenggarakan oleh PGATI, yang kini tinggal di Riau bersama keluarganya, berterus terang.

Ketika apa yang disampaikan pro asal Riau tersebut Media GolfJoy konfirmasikan kepada Zulharmen Tabusalla yang membahas topik bertajuk Swing Characteristics & Video Analysis, Harmen —- sapaan akrabnya — mengungkapkan bahwa era sekarang adalah era teknologi yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun di dunia ini.

“Sebetulnya bukan masalah bisa atau tidak bisa .. tapi masalahnya adalah mau atau tidak untuk belajar,” kata Zulharmen Tabusalla yang juga dikenal sebagai SekJend PGA Indonesia. 

“Kalau ingin sukses dan berhasil sebagai pengajar golf, tidak perlu belajar jauh-jauh ke luar negeri. Belajar atau tanya saja sama Benny Kasiadi atau Rory Hie, karena Benny dan Rory tidak pernah berhenti untuk terus belajar tentang teknologi yang berhubungan dengan olahraga golf,” tambah Harmen, menegaskan.

Terlepas dari masalah tersebut, yang jelas Agus Triyono sebagai Ketua Dewan Presidium PGA Indonesia saat menutup acara Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf Batch XVI memohon kepada seluruh peserta agar tetap memiliki integritas yang tinggi, penuh tanggungjawab, menjunjung tinggi nama baik organisasi, dan tetap low profile dalam menekuni serta menjalankan profesinya sebagai pengajar golf.

Tulisan dan foto oleh Toto Prawoto

Related posts

Cetak 63, Walters Memimpin di Skotlandia

Tiara

Rayhan Abdul Latief & Rayi Geulis Juarai IJG Premier League #8

Toto Prawoto

Grace Kim Raih Kemenangan Mayor Pertamanya di Amundi Evian Championship

Hasim

1 comment

IT Telkom 31/05/2025 at 11:01 am

Berapa rata-rata usia “pegolf amatir berusia muda” yang banyak mengikuti Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf Batch XVI ini?

Reply

Leave a Comment

12 + thirteen =