Organisasi golf profesional di Indonesia resmi memasuki babak baru. Melalui Rapat Kerja dan Rapat Umum Anggota Luar Biasa (RUALB) yang digelar dari pagi hingga sore hari, Rabu (21/10), di Plaza Aminta Lebak Bulus Jakarta, pengurus dari Professional Golfers Association of Indonesia (PGA Indonesia) dan PGA Tour Indonesia sepakat untuk melebur menjadi satu wadah tunggal di bawah nama PGPI (Persatuan Golfer Profesional Indonesia).
Penggabungan kembali kedua institusi ini dinilai sebagai momentum yang sangat tepat. Menginjak usia yang ke-50 tahun pada tahun ini, organisasi dinilai sudah cukup matang untuk bergerak lebih leluasa dan lincah dalam menghadapi berbagai tantangan global serta mempercepat pengambilan keputusan strategis.

“Kalau dulu kita menggunakan sistem presidium, kinerja birokrasi masih terasa sekali. Di dalam menghadapi tantangan-tantangan global saat ini, kita harus mempercepat diri untuk mengambil keputusan-keputusan strategis,” ujar Ketua Umum PGA Tour Indonesia Agus Triyono.
Perubahan Fundamental Struktur Organisasi
Penyatuan dua institusi ini membawa sejumlah perubahan signifikan dalam tubuh organisasi, di antaranya:
Sistem Kepemimpinan Tunggal: Jika sebelumnya PGA Indonesia menganut sistem kepemimpinan kolektif atau presidium yang sempat dipimpin oleh tiga orang, kini struktur pimpinan diubah menjadi sistem tunggal di bawah seorang Ketua Umum.
Pembentukan Dua Divisi Utama yang Setara: Divisi Vokasional dan Divisi Turnamen.
Divisi Vokasional merupakan kelanjutan dari fungsi PGA Indonesia yang berfokus pada standarisasi profesi, sertifikasi, pengembangan pendidikan, pengembangan pengajar, serta ditambah dengan penanganan bidang keanggotaan.
Divisi Turnamen mengambil alih seluruh fungsi dan operasional yang sebelumnya ditangani oleh PGA Tour Indonesia. Nama Sirkuit PGA Tour Indonesia tetap dipertahankan sebagai branding turnamen sekaligus institusi PGPI.
Penggunaan Identitas Nasional: Nama nasional PGPI dikedepankan untuk memperkuat identitas di dalam negeri, sementara nama PGA Indonesia tetap digunakan untuk kepentingan dan branding hubungan internasional.
Terkait masa bakti kepengurusan yang sebelumnya berbeda—di mana periode PGA Indonesia dijadwalkan berakhir pada akhir 2027, sementara PGA Tour Indonesia hingga 2030—disepakati melalui asas kompromi dan saling menghormati untuk menyelaraskan akhir masa bakti demi kesinambungan organisasi.
Kolaborasi SDM dan Pembaruan AD/ART
Dalam hal kepemimpinan, posisi ketua umum dan jajaran pengurus diputuskan melalui mekanisme musyawarah dan kompromi, menggabungkan potensi sumber daya manusia terbaik dari eks PGA Indonesia dan eks PGA Tour Indonesia agar menjadi tulang punggung organisasi ke depan.
Seluruh poin penting hasil kesepakatan tersebut telah disetujui oleh para anggota dalam RUALB, yang juga berkonsekuensi pada penyesuaian pasal-pasal dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PGPI. Dengan langkah penyatuan ini, PGPI optimis dapat memulai lembaran baru demi kemajuan golf profesional tanah air.
Rencana Turnamen 2027
Zulharmen Y. Tabusalla, Sekretaris Jenderal PGA Tour Indonesia, mengatakan pada 2027 pihaknya berencana menggelar turnamen pro reguler 3 kali dan senior 4 kali.
“Di 2027 yang pasti turnamen regular itu kemungkinan bisa di antara 2 sampai 3 event yang ada di kalender terjadwal. Begitu juga untuk senior event yang ada terjadwal sekitar 3 sampai 4. Kenapa senior ini lebih banyak? Saat ini memang karena kita beberapa kali sudah menjalankan kegiatan dengan sponsor yang sama untuk event senior ini. Tapi bukan berarti tidak ada rencana ataupun program yang mesti kita jalankan terkait penambahan-penambahan kegiatan, khususnya turnamen reguler,” kata Zulharmen.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum I (Bidang Organisasi dan Keanggotaan) PGATI Wahyu Utama Hendarman mengatakan pihaknya ingin selain menambah jumlah turnamen, juga meningkatkan kualitas para pengajar golf profesional.
“Selama ini tuh orang selalu kalau melihat PGPI itu yang dilihat turnamen. Tapi kenyataannya kan sekarang bahwa PGPI itu bukan hanya tour players isinya, tapi juga ada namanya teaching professionals.”
”Memang program yang kita harapkan ke depan itu, ya selain daripada peningkatan jumlah turnamen yang kita harapkan ya, sama-sama itu juga kita mengharapkan kita bisa melahirkan sekaligus meningkatkan kualitas teman-teman teaching professionals, di mana yang nantinya bisa melahirkan pegolf-pegolf baru dari junior dan meningkatkan kemampuan mereka sehingga pada saat-saat nanti mereka bisa jadi atlet-atlet nasional yang diandalkan, dan juga sekaligus pada saatnya nanti mereka akan berpindah menjadi seorang golfer professionals,” kata Uke, panggilan akrab Wahyu.
