FeaturedKomunitas

Avie K Utomo: Regenerasi Pro Lokal Perlu Perhatian Khusus

MENGAWALI kegiatannya di tahun 2025, pada 4 Februari 2025 PGAI (Professional Golf Asociation of Indonesia) menyelenggarakan Playing Ability Test (PAT) atau Tes Kemampuan Bermain bagi pegolf amatir yang akan beralih status menjadi pegolf Profesional, dan pada 5 Februari dilanjutkan dengan Qualifying Scholl (QS) demi memperoleh status agar dapat mengikuti touring pro yang diselenggarakan oleh Professional Golf Asociation Tour of Indonesia (PGATI).

Kegiatan PAT dan QS yang diselenggarakan di Padang Golf Pondok Cabe tersebut
disambut sangat antusias oleh para pegolf yang berasal dari kawasan Jabodetabek, Bandung, dan Bali.

Selain diikuti oleh para pegolf amatir yang telah lama malang melintang di kancah kompetisi amatir — baik di tingkat lokal maupun nasional —- PAT dan QS juga diikuti oleh pegolf (amatir — junior) berusia yang “naik daun” sekitar 5 hingga 10 tahun terakhir terutama dan khususnya ketika pandemi Covid – 19 melanda seluruh dunia termasuk di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Khusus untuk PAT tak hanya diikuti oleh para pegolf amatir yang telah lama malang melintang di ajang persaingan golf amatir di tingkat lokal dan nasional; Akan tetapi diikuti juga oleh pegolf muda yang masih berusia 20 tahun.

Seperti diketahui, selain menyelenggarakan Playing Ability Tes (PAT) dan Qualifying Scholl (QS), PGAI juga menyelenggarakan Sertifikasi Teaching Pro yang berlangsung di Commander Driving Marinir Cilandak pada 26 dan 27 Februari 2025.

Ketiga kegiatan tersebut berjalan lancar tanpa mengalami hambatan sama sekali, dan seluruh peserta pun menyatakan sangat bersyukur. Karena, pada akhirnya mereka memiliki status sesuai dengan interest masing-masing — baik sebagai Pro maupun Teaching Pro.

Untuk mengetahui berbagai masalah dan tantangan yang akan mereka hadapi di masa mendatang, Media GolfJoy secara khusus berbincang-bincang bersama Avie K Utomo yang dikenal sebagai pengamat, analis, tournament director, dan komentator golf.

Berikut rangkuman wawancara Media GolfJoy bersama Avie K Utomo yang sering tampil juga sebagai MC Golf dalam event golf — baik yang berskala regional maupun internasional — saat Indonesia menjadi host event tersebut.

REGENERASI

Dalam dunia golf Pro yang terdiri dari Pro Pemain (Touring) dan Pro Pengajar (Teaching).

Keduanya membutuhkan regenerasi. Khususnya bagi Touring Pro di mana kategori umum terbagi atas Pro Reguler 50 tahun ke bawah dan Pro Senior 50 tahun ke atas.

Dengan demikian akan terjadi kesinambungan yang terus menerus berprogres. Yang pada masing-masing kategori membutuhkan ketrampilan yang terus meningkat agar dapat bersaing dalam perolehan skor agar mampu menarik dukungan sponsor dan promotor pertandingan.

Sedangkan dalam kategori Teaching Pro, kebutuhan berkelanjutan pun tak bisa diabaikan. Dan untuk itu diperlukan bukan hanya kuantitas belaka, namun juga kualitas melalui sertifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan, mencakup teknik mengajar (basic, advance, endhanced), Rule of Golf, Club Fitting, Physical training dan lain-lain.

Perhatian secara khusus adalah memastikan bahwa yang perlu dijadikan perhatian khusus adalah eksistensi Pro lokal agar menjadi tuan sehingga dapat diandalkan untuk membatasi Pro asing yang berpotensi mengurangi pendapatan Pro lokal.
Dan, yang tidak kalah penting adalah kemajuan teknologi dalam bidang dukungan sarana dan prasarana ajar mengajar akan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengembangan golf secara komprehensif.

PRO LADIES

Seperti yang disampaikan Ketum PGATI bahwa keberadaan Pro Ladies diharapkan agar dapat digiatkan melalui series turnamen yang dapat menggairahkan perkembangan yang dibutuhkan.

Ingat, hingga 2012 saat terhentinya event Kejuaraan Nasional Ladies/Women Open di mana Ladies Pro Lokal baru mulai muncul sejak beberapa tahun ke belakang dan mulai menunjukkan kiprahnya dengan di turnamen lokal yang diselenggarakan oleh PGATI.

Adapun pada tahun 2022 – 2023 turnamen bertajuk Simone diselenggarakan di Pondok Indah kemudian baru tahun 2025 Ina Women’s Open digelar, ternyata menghembuskan angin segar baru para pegolf pro wanita Indonesia.

Itulah sebabnya PGATI berencana untuk mengajak para stakeholder dalam rangka menyemarakkan kegiatan serie Turnamen Ladies.

MENGURANGI KEGIATAN MENGAJAR

Jika jumlah turnamen Pro diadakan dengan lebih teratur dan hadiah uang yang memberikan harapan bagi pendapatan yang memadai, maka dapat dipastikan bahwa para pemain muda akan mengurangi kegiatan mengajar dan lebih berkonsentrasi sebagai seorang touring player.

Perjalanan saya dan pak Agus berawal sejak tahun 2001 yaitu pada saat perubahan mendasar pada Organisasi PGPI dengan segala suka-duka yang merupakan bagian dari perjalanan sejarah.
Bahwa pada masa bakti tahun 2025 sampai dengan 2030, apakah perjalanan ini adalah awal dari ujung kiprah kami, maka segalanya diserahkan kepada Tuhan YME.

Tentunya harapan kami adalah kaderisasi dan memberi kesempatan kepada generasi penerus. Pada sisi lain, kami tengah mempersiapkan upaya untuk menggabungkan-menyatukan PGATI dan PGAI agar kembali ke rumah lama yaitu PGPI agar memberikan keleluasaan dan kemudahan bagi profesional golfer Indonesia.

(Penulis Toto Prawoto – foto dokumentasi TP)

Related posts

Senayan Golf Club Bawa Keceriaan Summer di Turnamen Member & Guest

Hasim

Brooks Koepka, Dustin Johnson, Rory McIlroy Gagal Lolos Cut di Masters

Hasim

Para Peserta R&A Level 1 Dibekali Ilmu Meminimalisir Cedera Golf Oleh Ahli Ortopedik

Syam

Leave a Comment

1 × five =