FeaturedTour News

LIV Golf Siap-siap Bangkrut, Terbebani Utang senilai Rp26 Triliun Lebih

LIV Golf dilaporkan sedang bersiap menghadapi potensi kebangkrutan Bab 11 (Chapter 11 bankruptcy) di Amerika Serikat seiring dengan langkah Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi yang mulai menghentikan kucuran dana tanpa batas mereka. Liga golf tandingan ini tengah berjuang keras merestrukturisasi beban utang yang besar serta kontrak bernilai fantastis para pemain bintangnya demi menghindari kejatuhan total di akhir musim 2026. 

Krisis Finansial yang Kian Mendalam

LIV Golf dikabarkan mengalami kerugian kumulatif yang sangat masif, mencapai lebih dari $1,46 miliar (lebih dari Rp26 triliun) sejak diluncurkan pada tahun 2022. Pembengkakan biaya ini bersumber dari jaminan kontrak bernilai ratusan juta dolar untuk memikat pegolf top dunia serta biaya produksi acara global yang tidak sebanding dengan pendapatan hak siar televisi di Amerika Serikat. 

Sebagai dampak langsung dari krisis ini, LIV Golf dilaporkan bersiap membatalkan Kejuaraan Tim (Team Championship) penutup musim senilai $40 juta yang sedianya digelar akhir Agustus 2026 di Michigan. Pembatalan ini memangkas kalender kompetisi mereka dan menjadi indikator kuat bahwa liga sedang kehabisan dana segar. 

Rencana Restrukturisasi “LIV Golf 2.0”

Untuk menyiasati potensi kebangkrutan, CEO LIV Golf, Scott O’Neil, aktif berburu suntikan dana eksternal dari konsorsium investasi swasta senilai $250 juta hingga $350 juta. Proposal penyelamatan ini mencakup beberapa poin krusial: 

Konversi Kontrak Menjadi Saham: Pegolf dengan nilai kontrak raksasa—termasuk Jon Rahm yang masih memiliki piutang sembilan digit dari kontrak senilai $300 juta—kini ditawari kepemilikan saham di entitas baru bernama “LIV Golf 2.0” sebagai ganti pembayaran tunai. 

Efisiensi Operasional: Jika pendanaan baru berhasil diamankan sebelum tenggat waktu September 2026, liga baru tersebut akan beroperasi dengan skala yang jauh lebih kecil, jadwal turnamen yang dipangkas, dan pengurangan hadiah (purse size) secara drastis.

Posisi Hukum: Opsi pengajuan kebangkrutan tetap dipertahankan oleh manajemen dan penasihat hukum untuk menghapus kewajiban hukum atas kontrak masa lalu jika negosiasi pendanaan baru menemui jalan buntu. 

Masa Depan Pemain yang Terombang-Ambing

Situasi ini memicu ketegangan di antara para pemain top. Sementara Bryson DeChambeau dilaporkan aktif membantu manajemen dalam pertemuan dengan calon investor, Jon Rahm menghadapi ketidakpastian besar karena statusnya sebagai salah satu kreditor terbesar jika liga resmi dinyatakan pailit. Di sisi lain, pembicaraan mengenai peluang kembalinya para pembelot ini ke PGA Tour mulai mencuat, meskipun PGA Tour menegaskan akan ada konsekuensi sanksi dan akuntabilitas ketat bagi mereka yang melanggar aturan sebelumnya. 

Related posts

Adrian Otaegui Unggul 4 Pukulan, Menangi Scottish Championship

Hasim

Rookie LPGA Haley Moore Menang Cactus Tour di Tengah Pandemi

Hasim

Rory Hie Pimpin Indonesian Tourism Golf Pro Series #7 ke Final

Toto Prawoto

Leave a Comment

4 × 3 =