Playing Ability Test atau Tes Kemampuan Bermain yang disingkat PAT, di-launching kepada komunitas golf di Republik tercinta ini ketika KPH Japto S Soerjosoemarno menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Golf Profesional Indonesia (PGPI) pada awal tahun 2000-an selama dua periode.
Sesuai namanya PAT adalah proses yang sangat penting yang harus dilakukan bagi para pegolf amatir yang ingin beralih status menjadi pegolf profesional.
Dalam perbincangan bersama Media GolfJoy, AgusTriyono, anggota Presidium PGA Indonesia sangat mengapresiasi para peserta PAT kali ini yang berjumlah 28 orang, dan mereka tak hanya datang dari Jabodetabek; Akan tetapi ada juga peserta yang berasal dari Palembang dan Bali.

Playing Ability Test berlangsung selama tiga hari pada tanggal 26 – 28 Juni 2023 lalu dan bertempat di Gading Raya Golf Klub, Serpong, Tangerang – Banten.
Hari pertama (26 Juni 2023) seluruh peserta melakukan tes kemampuan bermain-nya sebanyak 36 hole: 18 hole pertama bermain di pagi hari dan dilanjutkan 18 hole kedua pada siang hari.
Hasil dari PAT tersebut 9 orang peserta dinyatakan lulus, yang lainnya sebanyak 19 orang peserta gagal.
Ke sembilan peserta yang lulus tersebut adalah 1. Eko Yudianto dari Perkumpulan Golf 37GA dengan score 143 (70 – 73) -1, 2. M. Sidik dari Sedayu dengan score 147 (76 – 71) +3, 3.Junaidi Abdillah dari Pondok Cabe dengan score 148 (73 – 75) +4, 4. Ade Rahmat dari Sawangan dengan score 150 (74 – 76) +6.
T5. Dua orang masing-masingMuhamad Husein dari Gading Raya dengan score 151 (76 – 75) +7, dan Febriansyah dari Palembang dengan score 151 (74 – 77) +7.
Sedangkan T7 juga terdiri dari dua orang yakni Abdul Rohim dari Sawangan dengan score 153 (77 – 76) +9, serta Galih Tri Septian dari Bintaro Driving Range dengan score 153 (76 – 77) +9, dan terakhir adalah Abdul Adjis dari Gading Raya dengan score 155 (80 – 75) +11.
SERTIFIKASI & RE-SERTIFIKASI
Setelah lulus, ke sembilan peserta tersebut mengikuti program Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf pada 27 dan 28 Juni 2023.
Pada hari kedua, Selasa (27 Juni 2023) ke 9 peserta yang lulus PAT, memperoleh pelajaran mengenai Sejarah Golf di Indonesia dan Tata Cara Mengajar yang disampaikan oleh Wahyu “Uke” Hendarman, dilanjutkan oleh Aditya Eduardo yang menyampaikan materi pelajaran Intro to Club Fitting, dan pertemuan pertama “In the class room” tersebut diakhiri oleh Agus Triyono mengenai Rule of Golf.
Session ketiga atau terakhir dari rangkaian tes kemampuan bermain yang dilanjutkan dengan program Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf pada Rabu (28 Juni 2023), Zulharmen Tabusalla tampil membawakan 3 (tiga) materi pelajaran sekaligus. Yakni tentang Teknis Dasar Golf, The Big 12 Swing Characteristic dan Evaluasi Praktek Mengajar.
ANTUSIAS
Menjawab pertanyaan Media GolfJoy mengenai respons dan antusiasme para peserta PAT kali ini — baik Wahyu Hendarman maupun Zulharmen Tabusalla, yang dihubungi pada hari yang berbeda — menyatakan bahwa mereka berdua sangat senang melihat antusiasme para pegolf amatir yang memiliki keinginan untuk menjadi pegolf pro.
“Memang betul bahwa yang lulus hanya 9 orang, dan hanya 7 orang yang langsung lanjut mengikuti proses sertifikasi untuk menjadi teaching pro,” kata Wahyu Hendarman yang akrab disapa dengan panggilan Uke.
Lebih jauh Uke mengungkapkan tentang apa alasan atau motivasi masing-masing peserta untuk mengikuti PAT serta program Sertifikasi PGA Indonesia.
Dan salah satu hal yang menarik adalah pertanyaan mereka terkait alasan kenapa PAT dilakukan 36 holes dan harus jalan kaki.
Jawabannya adalah untuk menjadi seorang teaching pro juga diperlukan kekuatan fisik yang prima, karena pada saat mengajar yang mungkin bisa sampai 10 jam dalam 1 hari, “Kita harus kuat bukan hanya berdiri namun yang terpenting adalah untuk menjaga tingkat konsentrasi saat mengajar,” tukas Uke.
“Kalau sudah lelah niscaya akan sulit untuk mencari atau melihat kesalahan si murid berikut dengan pemilihan solusi perbaikannya,” tambahnya.
Di akhir perbincangan, Wahyu “Uke” Hendarman berharap agar para calon teaching pro tersebut dapat memahami serta mengajarkan teknik-teknik golf yang didasari teori yang sudah teruji dan sudah dijalankan di dunia pengajaran golf secara umum di dunia olahraga golf itu sendiri.
Sedangkan Zulharmen Tabusalla berharap bekal yang diberikan dapat menjadi modal pengetahuan dasar dan kesetaraan pemikiran antara pihaknya sebagai pengajar golf profesional dengan peserta program Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf.
Di akhir perbincangannya bersama Media GolfJoy, Zulharmen Tabusalla menyatakan bahwa yang perlu ditingkatkan adalah rasa memerlukan dan kewajiban dari existing teaching profesional — baik yang belum memiliki sertifikat maupun yang sudah memiliki sertifikat namun sudah lewat dari 3 tahun — agar segera mengikuti kembali program re-sertifikasi.
“Karena hal tersebut adalah hal yang wajib dimiliki oleh seorang pengajar olahraga profesional seperti yang tertulis dalam Undang Undang Keolahragaan Republik Indonesia,” tagas Zulharmen Tabusalla.
PESERTA TERBAIK
Seperti diketahui bahwa dalam PAT yang dilanjutkan dengan program Sertifikasi & Re-Sertifikasi Kompetensi Pengajar Golf, Febriansyah, peserta dari Palembang terpilih menjadi peserta terbaik atau The Best dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh PGA Indonesia tersebut.
Kepada Media GolfJoy, pegolf kelahiran Palembang pada 15 Februari 1980 tersebut, tidak pernah membayangkan bakal mendapatkan hasil tes terbaik.
“Yang pasti saya sejak 1993 memang sudah menggeluti olahraga golf,” kata Febriansyah yang beberapa kali menjuarai event junior di daerahnya dan menjadi Atlet PON 2004 Palembang.
Febriansyah akan lebih fokus terlebih dulu sebagai teaching pro, dan belajar mempersiapkan diri lagi agar lebih maksimal dalam proses mengajar.
“Meskipun begitu tidak menutup kemungkinan saya juga akan ikut touring pro untuk mencari tantangan baru,” kata Febriansyah yang Home Base-nya di Citra Grand City Golf Driving Range, dan untuk lapangan Home Base-nya di Kenten Golf Course (Palembang Golf Club).
Menjawab pertanyaan tentang harapannya untuk pergolfan nasional terutama dan khususnya tentang golf profesional, Febriansyah berharap agar percaturan golf profesional khususnya di Sumatera Selatan bangkit dan bersemangat kembali sekaligus dapat mengembangkan jaringan atlet-atlet nasional, junior yang berkualitas agar dapat berbicara di kancah nasional dan internasional.
“Saya yakin hal tersebut dapat terjadi 5 hingga 10 tahun ke depan kalau kita berkomitmen untuk profesional,” kata Fabriansyah mengakhiri keterangannya kepada Media GolfJoy.
Tulisan Toto Prawoto
Foto TP & Dokumentasi
Hubungi golfjoy@yahoo.com untuk peliputan GolfJoy di event Anda.
DOWNLOAD E-MAGZ GOLFJOY TERBARU GRATIS!

