“Bos kamu nonton nggak?!”
KALIMAT yang terucap dari mulut Murdaya Widyawimarta Poo atau yang akrab disapa Pak Po tersebut terngiang kembali di telinga penulis, ketika mendengar kabar bahwa Pak Po meninggal dunia pada Senin (7 April 2025) pukul 13.47 di Singapura pada usia 84 tahun.
Pasalnya pertanyaan tersebut berhubungan erat dengan keberadaan Joyada Siallagan — founder Media GolfJoy, Ironcard dan lainnya — yang memiliki kedekatan dengan mendiang Pak Po yang mengenal Joyada Siallagan sebagai lawyer.
“Ijin, Pak Po hari ini rasanya boss saya tidak hadir, karena sedang ada kegiatan penting sebagai hamba hukum,” jawab penulis atas pertanyaan mendiang Pak Po saat Media GolfJoy meliput event berskala regional yang berlangsung di Pondok Indah Golf Club, di mana Indonesia (PB PGI di bawah pimpinan pak Po) bertindak sebagai host.
Meninggalnya Pak Po sontak membuat komunitas olahraga golf di Republik ini sangat terkejut.
Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar mengingat ketika mendiang Pak Po menjadi orang nomor 1 di percaturan golf Nasional — mendapat ujian yang sangat berat mengingat pada saat itu pandemi Covid – 19 melanda di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
“Sunyi” dan “senyap” mewarnai atmosfir di setiap golf course golf course yang tersebar di Nusantara. Betul bahwa olahraga golf adalah salah satu cabang olahraga yang memiliki pemahaman yang sangat baik dan benar mengenai idiom “Social Distancing”.
Akan tetapi ketika pemerintah menerapkan peraturan warga yang beraktifitas harus menjaga jarak — komunitas golf di negeri ini pun patuh untuk tidak bermain golf.
Tapi, entah siapa yang bicara dan pembicaraannya viral di media sosial bahwa “Menjaga Jarak” atau “Social Distancing” adalah sesuatu yang harus dipatuhi bagi setiap pemain golf — karena kalau tidak, ujung driver bisa mengenai kepala rekan satu piring group — akhirnya perlahan-lahan tapi pasti di setiap golf course mulai ramai dikunjungi pegolf.
Meskipun harus menggunakan masker — baik saat berlatih maupun bermain — namun mereka tetap merasa enjoy. Dan, diakui atau tidak serta suka tidak suka, ada dampak positif (!) dengan adanya Covid – 19
Karena jumlah orang yang bermain golf (walaupun belum ada data yang dapat dijadikan sebagai rujukan) cenderung terus meningkat.
Perkumpulan-perkumpulan golf baru pun bermunculan di setiap kota-kota besar di seluruh Indonesia.
Betul bahwa memang ada turnamen yang telah masuk ke dalam calender of event-nya PB PGI yang sempat tertunda akibat pandemi Covid – 19. Akan tetapi begitu PB PGI menggelar kembali event yang tertunda, antusias peserta sama sekali tidak surut.
Konsistensi yang ditunjukkan oleh Pak Po — sesuai dengan kapasitasnya sebagai Ketua PB PGI selama dua periode — itulah yang membuat komunitas golf di negeri tercinta ini benar-benar merasa kehilangan.
Joyada menyatakan rasa dukanya atas kepergian Pak Po.
“Pak Po juga dikenal karena kepeduliannya terhadap pengembangan dunia golf. Saya sebagai bagian dari stakeholder golf indonesia melalui Ironcard dan Golfjoy mengucapkan belasungkawa yang mendalam atas kepergian Beliau, semoga damai di dunia yang abadi dan keluarga yang ditinggal diberi kekuatan dan penghiburan,” kata Joyada.

Rest in Peace Pak Po.
Jasa dan pengorbanan pak Po akan selalu dikenang oleh komunitas golf di negeri ini: dari pegolf junior, pegolf amatir, pegolf senior hingga para orang tua.
