BUKAN faktor kebetulan Media GolfJoy mengenal Sarmilih (55 tahun) — asli Sawangan, Depok — sejak dia masih berstatus sebagai junior dan berlanjut ke amatir yang nyaris tak pernah absen apabila ada event berskala lokal maupun nasional.
Berkat prestasi yang ditorehkannya, Milih, begitu Media GolfJoy menyebut namanya, pun masuk dalam Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional) bersama pegolf lainnya — salah seorang di antaranya adalah Sukamdi (alm) pegolf asal Tarutung, Sumatera Utara.
Sedangkan pegolf putri yang satu angkatan bersama Milih di Pelatnas antara Ani Iman, Retno Mustari dan Jamilah.
Pada saat itu PB PGI berada di bawah kepemimpinan Harjanto Danutirto, dan siapa pun pegolf amatir di Tanah Air masuk ke Pelatnas adalah sebuah kebanggaan.
Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar mengingat pada saat itu yang namanya WAGR belum hadir.
Oleh karena itulah maka mereka yang berada di dalam Pelatnas yang ber-home base di JGC Rawamangun — lambat atau cepat — sudah pasti akan mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam event resmi yang berlangsung di luar negeri — terutama Asia dan khususnya Asean — seperti Sea Games dan event-event lainnya.
Dalam perjalanan karirnya di kemudian hari — setelah cukup lama malang melintang di kancah percaturan dan persaingan golf amatir di Tanah Air — Milih pun menanggalkan statusnya dan beralih menjadi pegolf profesional.
Selain dikenal sebagai Pro, Milih juga menekuni profesi sebagai Teaching. Para pegolf pemula yang mendapat bimbingan Milih tersebar di kawasan Jabodetabek.
Suatu hari ketika Media GolfJoy berkunjung ke Marinir Driving Range Cilandak — dari balik pintu toko penjual peralatan golf — terdengar suara memanggil Media GolfJoy.
Ternyata itu suara Milih, dan dia langsung menghampiri GolfJoy kemudian berjalan beriringan menuju tee box.
“Pasti Om mau nemuin seseorang, kan?”
“Ah, Milih tau aja.”
Dan, betul ketika itu Media GolfJoy memang akan bertemu dengan narasumber dan berjanji akan bertemu di Marinir Driving Range Cilandak.
“Belum dateng orang yang Om mau wawanraca, kan?”
“Belum.”
“Kalau gitu sambil nunggu kita ngobrol dan ngopi yaa, Om.”
Begitulah sambutan Milih kalau bertemu Media GolfJoy. Dan, meski dalam pertemuan tersebut yang dibicarakan adalah hal-hal normatif yang ada di olahraga golf, namun sangat mengasyikkan — apalagi kalau dalam pertemuan tersebut kita menyinggung masa lalu — suasana nostalgik pun membuat GolfJoy dan Milih tertawa-tawa …
Oleh karena itulah maka Media GolfJoy sangat kaget saat pengamat golf Uke memposting kabar duka atas wafatnya Sarmilih kepada rekan-rekan pers yang biasa meliput event golf di dalam negeri.
Uke tak menjabarkan mengenai sakit yang diderita Sarmilih — juga akan dimakamkan di mana jenazah-nya.
Usai berbincang bersama Uke, Media GolfJoy menghubungi Coach Alga yang sama-sama asli dari Sawangan.
Menjawab pertanyaan mengenai sakit apa yang diderita Milih, Coach Alga mengungkapkan bahwa sudah hampir dua tahun Sarmilih menderita gagal ginjal.
“Semasa hidupnya mendiang Sarmilih rutin melakukan cuci darah,” ujar Coach Alga. “Biarpun sakit dia tetap aktif membimbing murid-muridnya,” tambahnya.
Kemarin, kata Coach Alga lebih lanjut, sepulang membimbing murid-muridnya Sarmilih jatuh pingsan setelah tiba di rumahnya.
Dan, pukul 04.00 dinihari tadi Sarmilih meninggal dunia. Kabarnya terjadi pendarahan di kepalanya …
Catatan Toto Prawoto
