Liga LIV Golf baru saja resmi menutup musim 2026 melalui turnamen penutup di Indianapolis, Amerika Serikat yang penuh kejutan sekaligus diselimuti ketidakpastian besar mengenai masa depan liga.
Turnamen terakhir di Indianapolis yang berakhir akhir pekan lalu menghadirkan drama besar di atas rumput hijau:
Pegolf muda berusia 22 tahun dari tim HyFlyers GC, Michael La Sasso, secara mengejutkan keluar sebagai juara. Ia mengalahkan nama-nama besar dunia setelah mencetak total skor 18-under, unggul satu pukulan dari Jon Rahm.
Meski kalah tipis di turnamen terakhir, kapten tim Legion XIII, Jon Rahm, tetap resmi dinobatkan sebagai Juara Individu LIV Golf musim 2026 berkat konsistensi poinnya sepanjang musim.
Tim Legion XIII yang dipimpin Jon Rahm sukses mempertahankan gelar Juara Tim (Team Championship) setelah unggul enam pukulan atas tim HyFlyers GC.
Krisis Finansial: Arab Saudi Tarik Modal, Turnamen Michigan Batal
Di balik selebrasi juara, suasana dystopian sangat terasa di kalangan internal liga. Dana raksasa dari Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi resmi dihentikan setelah musim 2026 ini berakhir. Hal ini memicu krisis finansial yang nyata:
Pembatalan mendadak turnamen besar Team Championship senilai $40 juta yang harusnya digelar di Michigan minggu ini.
Turnamen di Indianapolis terpaksa dimajukan untuk menjadi laga penutup darurat musim ini.
Masa Depan “LIV 2.0” dan Unggahan Misterius DeChambeau
Kontrak bintang utama sekaligus ikon LIV Golf, Bryson DeChambeau, resmi habis tepat setelah turnamen Indianapolis berakhir. Tak lama setelah itu, DeChambeau mengunggah pesan misterius di media sosialnya dengan kalimat: “It was a good run” (Itu adalah perjalanan yang menyenangkan). Unggahan ini memicu rumor kencang bahwa ia dan Jon Rahm bersiap angkat kaki.
Untuk bertahan hidup tanpa miliaran dolar dari Saudi, CEO LIV Golf Scott O’Neil mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan awal dengan investor baru utama (rumornya adalah BC Partners) demi mendanai liga dari tahun 2027 hingga 2030. Struktur kompetisi akan dirombak total menjadi “LIV 2.0” yang lebih hemat, hanya menggelar 10 turnamen setahun, dan memberikan kepemilikan saham mayoritas kepada para pemain yang bertahan. Namun, pihak PGA Tour secara tegas menyatakan menutup pintu dan menolak melakukan merger atau menyelamatkan pemain LIV yang terlantar.
