Sebelum otonomi daerah diterapkan di beberapa wilayah NKRI, Kecamatan Sawangan masuk ke dalam teritori Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di sana ada sebuah desa/kampung bernama Bojong Sari Lama yang sejak dekade awal tahun 1970-an warganya bekerja di lapangan golf — setelah di desa/kampung mereka dibangun lapangan golf yang di kemudian hari kita kenal sebagai Sawangan Golf Course.

Demikian Anam Bodin warga asli Sawangan mengawali testimoninya di hadapan peserta Focus Group Discussion (FGD) bertema “Selayaknya Kota Depok Disebut Sebagai Kota Golf”, yang diselenggarakan oleh Pengkot PGI Kota Depok dan bertempat di Anggrek Room – Hotel Bumi Wiyata pada Jumat malam (17/12/21).

“Bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir di sini pasti mengenal atau pernah mendengar pegolf profesional yang bernama Maan Nasim .. Nah, dia adalah pegolf legendaris Indonesia produk asli Sawangan,” kata Anam Bodin lebih lanjut.

“Dia otodidak sejati, dan pegolf dari Sawangan termasuk saya, anak-anak saya juga yang lainnya, umumnya mereka semuanya belajar golf secara otodidak: dari melihat saat mereka menjadi kedi pegolf yang main di Sawangan, kemudian mereka meniru dan  mempraktekkannya ..,” tambah Anam Bodin yang saat ini dikenal sebagai pelatih golf yang home-basenya berada di Pondok Cabe, Ciputat – Tangerang Selatan.

Lebih jauh Anam Bodin mengungkapkan, kenapa dari Sawangan muncul banyak warganya yang bekerja di lingkungan pekerjaan yang ada hubungannya dengan olahraga golf: dari tukang sapu, petugas keamanan, restoran, pro shop, fitting, caddie hingga mereka yang aktif menekuni olahraga golf — baik sebagai pemain (amatir dan profesional) maupun sebagai pelatih (teaching pro). “Itu semua terjadi karena di desa kami ada lapangan golf … Betul bahwa saat terjadi penggusuran lahan yang nantinya akan dibangun lapangan golf memang banyak warga yang protes .. Tapi, di kemudian hari adanya lapangan golf tersebut ternyata membawa hikmah bagi warga Bojong Sari Lana sampai sekarang.”

BERBANDING LURUS

Apa yang disampaikan Anam Bodin tersebut berbanding lurus dengan apa yang dipaparkan oleh Umarsyah, Ketua Panitia Focus Group Discussion.

Dalam pemaparannya, Umarsyah, antara lain juga menyebutkan bahwa di Kota Depok ada beberapa lapangan golf yang bisa dijadikan sebagai “Kawah Candradimuka” untuk menggodok sekaligus membina para pegolf utamanya dan khususnya junior agar kelak mereka bisa menorehkan prestasi mereka – baik di tingkat lokal, nasional, regional maupun internasional – seperti yang telah dilakukan para pendahulu mereka di Sawangan.

AKADEMI GOLF

Umarsyah juga mewacanakan membentuk Akademi Golf — setelah mengetahui bahwa ada salah seorang pelatih golf bersertifikat asal Sawangan bernama Alga Topan (yang tidak lain adalah putra sulung Anam Bodin) yang saat ini mendapat kepercayaan dari PB PGI untuk melatih pegolf junior yang bernaung di bawah bendera NGI (National Golf Institut) yang beralamat di Pondok Indah Golf Club – Jakarta Selatan.

Setelah namanya disinggung dalam acara tersebut, Alga Topan yang, selain dikenal sebagai pelatih golf juga memiliki gelar S-2 dari Universitas Indonesia (UI)  mengatakan bahwa dirinya siap mendukung program Pengkot PGI Depok. “Sebagai warga Depok saya harus berkontribusi dengan apa yang saya bisa sumbangkan untuk daerah asal saya,” kata Alga Topan.

Sementara Herry Safarry — Ketua Pengprov PGI Jawa Barat yang malam itu datang langsung dari Bandung untuk menghadiri acara Focus Group Discussion, menyatakan bahwa untuk membuat Depok layak disebut sebagai Kota Depok haruslah dibuat sebuah event yang para pesertanya bisa bermain di ketiga golf course yang tadi disebutkan oleh Umarsyah.

“Hari pertama seluruh peserta main di Pangkalan Jati, hari kedua di Emeralda dan terakhir di Palm Hills,” katanya. “Apa yang saya sampaikan bukanlah hal yang baru. Karena, bermain di tiga lapangan golf adalah hal yang biasa di luar negeri,” tambah Herry Safary, menegaskan.

SUPPORTING

Seperti diketahui acara Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh Pengkot PGI Depok bertajuk  “Selayaknya Kota Depok Disebut Sebagai Kota Golf” tersebut, selain dihadiri undangan yang berasal dari pemangku kepentingan olahraga golf di Republik tercinta ini — di antaranya Ketua Pengprov PGI Jawa Barat, Ketua Pengkot PGI Kota Depok, GM Padang Golf Pangkalan Jati serta Ketua Perkumpulan Golf Pergola UI –acara tersebut juga dihadiri Kapolres Depok, Ketua KONI Depok, Dispora Depok dan Anggota DPRD Kota Depok.

Pejabat yang menduduki jabatan yang berhubungan dengan olahraga di Kota Depok pun menyambut baik wacana yang dijadikan sebagai tema/topik dalam acara diskusi tersebut.

Sementara anggota DPRD Kota Depok yang hadir dalam acara diskusi tersebut, selain mendukung pihaknya juga akan menyampaikan wacana tersebut pada kesempatan Sidang DPRD Kota Depok tahun depan.

Sedangkan Joyada Siallagan — pendiri Yayasan SJS dan Iron Card — akan mensupport setiap kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan dan peningkatan prestasi oleh golf di Indonesia khususnya junior, agar mereka kelak dapat mengharumkan nama bangsa dan negara melalui talenta yang mereka punya, kemudian mereka bisa menjadi juara dalam setiap event golf yang mereka ikuti di luar negeri sehingga Merah Putih berkibar di setiap negara.

“Tentang wacana akan dibentuk Akademi Golf di Kota Depok, Yayasan SJS (Sahabat Joyada Siallagan) dan Iron Card juga sangat mendukung,” kata Bung Joy, sapaan akrabnya, yang disambut dengan tepuk tangan dari undangan yang hadir dalam acara FGD tersebut. “Untuk mewujudkan impian tersebut, kita harus bekerjasama .. berkalaborasi dengan semua pihak, dan jangan berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.

Dari acara Focus Group Discussion tersebut bisa dibilang baru untuk pertama kalinya terjadi antara para stakeholder olahraga khususnya golf dengan pejabat terkait duduk bersama untuk saling menyumbangkan saran demi kesejahteraan sekaligus kemajuan warganya yang menekuni golf sebagai olahraga prestasi dan profesi.

Salam olahraga!

(Liputan dan foto oleh Toto Prawoto)

DOWNLOAD E-MAGZ GOLFJOY TERBARU GRATIS!


GolfJoy Cover