Dampak sosial dan ekonomi akibat Pandemi Covid – 19 yang melanda seluruh dunia – termasuk Indonesia – memang sangat dirasakan oleh warga masyarakat di mana pun mereka berada. Para atlet profesional dari berbagai cabang olahraga pun merasakan betul bahwa Pandemi Covid – 19 membuat mereka benar-benar merasa tidak nyaman.

Dapat dibayangkan bagaimana ketidaknyamanan (tampil berkompetisi di lapangan harus tetap memakai masker) tersebut harus mereka terima sebagai keniscayaan yang tak terhindarkan.

Di sisi lain – para atlet profesional dari berbagai cabang olahraga tersebut – harus tampil tanpa dukungan penonton. Meskipun begitu mereka tetap melakoni kehidupan dalam kondisi tatanan baru tersebut dengan rasa syukur. Karena, sponsorship yang mendukung kegiatan olahraga profesional tersebut tetap konsisten sekaligus commited agar kompetisi terus berputar.

Sayang sekali hal tersebut tidak terjadi di negeri kita – khususnya kalau kita bicara olahraga golf profesional.

Sebab, seperti kita ketahui bersama, pada 18 dan 19 Agustus 2020 PGATI – melalui Komite Pelaksana Pertandingan yang dipimpin Eryk Armando Talla – akan menggulirkan turnamen golf profesional dengan total hadiah sebesar Rp 250.000.000_- (dua ratus lima puluh juta rupiah).

Akan tetapi, turnamen pro yang ditunggu-tunggu oleh para pro lokal tersebut, yang rencananya akan diselenggarakan di Emeralda Golf Club, Cimanggis, Depok – Jawa Barat, harus ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Indra Hermawan (jongkok paling kanan) menjadi anggota Team Golf Indonesia yang mengalahkan Team Golf Malaysia dalam duel meet di Riverside, Cimanggis pada 2017.

Banyak yang mempertanyakan kenapa turnamen yang bertajuk Mengenang Rudy Lisapally tersebut ditunda dan apakah penyebabnya, ternyata bermuara kepada Protokol Kesehatan Covid – 19 yang sangat “ditakutkan” sekaligus “dikhawatirkan” oleh para peserta yang berasal dari luar Jawa.

Yaitu, mereka harus menjalani tes Swab terlebih dahulu di daerah asal mereka masing-masing – sebelum mereka menuju Emeralda Golf Club tempat turnamen perdana yang diselenggarakan oleh PGATI di masa Pandemi Covid – 19.

Berkarat
Oleh karena itu menjadi sangat wajar ketika GolfJoy berbincang bersama Indra Hermawan – pro asal Sawangan kelahiran 12 Agustus 1980 – itu, sambil berseloroh mengungkapkan bahwa peralatan untuk bermain golf miliknya sampai karatan karena sudah lebih hampir enam bulan lamanya menganggur …

“Sejak ada pandemi Covid – 19, saya menganggur. Tidak sempat mengajar dan gobar dengan para boss. Sampai berkarat peralatan golfnya,” tegas Indra – tanpa basa-basi – dalam perbincangan tertulis dengan GolfJoy pada pekan ketiga Agustus lalu.

Ketika GolfJoy menyinggung tentang sponsorship dari sebuah media olahraga yang selama ini dikabarkan mendukung penampilannya dalam setiap event pro yang diikutinya, dan GolfJoy juga menanyakan berapa besar kontrak yang diterimanya, Indra Hermawan mengungkapkan bahwa dia tidak pernah dikontrak. “Tapi saya dibayari green fee dan tip caddy kalau main golf bareng,” katanya.

Golden Boy

Seperti pegolf asal Sawangan umumnya, Indra Hermawan pun belajar golf secara otodidak di bawah bimbingan Aming – ayahnya – sejak sebelum dia masuk Sekolah Dasar.

Bersama teman-teman seangkatannya seperti Samili, Denny Supriyadi dan yang lainnya, mereka selalu mendominasi setiap kali PB PGI dan Komda PGI (kini Pengda PGI) DKI Jakarta menggelar turnamen khusus untuk junior.

Sebagai pegolf junior yang pada level daerah dan nasional prestasinya sangat menonjol, Indra Hermawan – yang pada era 90-an mendapat bimbingan dari Charlie L Pelupessy sebagai Kabid Pembinaan Junior PB PGI di bawah Soedomo- pernah tampil mewakili Indonesia dalam turnamen golf junior tingkat internasional yang berlangsung di San Diego Amerika Serikat.

Dalam event tersebut anak pasangan Aming dan Inah ini berada di posisi 6 dunia.

Indra Hermawan, yang dalam turnamen tersebut menjadi satu-satunya pegolf junior dari Asia Tenggara, penampilannya benar-benar sungguh membuat terkejut para pembina junior dari negara lain yang pegolf gagal masuk ranking 10 besar dunia.

Penampilan Indra Hermawan yang sangat fenomenal dari sebuah negara (yang pada saat itu) tidak memiliki tradisi yang mengakar khususnya di olahraga golf, berkat keberhasilannya berada di ranking 6 golf junior tingkat dunia mendapat julukan The Golden Boy dari media massa internasional yang meliput event prestisius tersebut.

Setelah lulus Sekolah Dasar, Indra melanjutkan ke SMP Yapan – Sawangan, Depok. Demikian juga setelah lulus SMP, Indra melanjut ke SMA Yapan dan lulus pada 1999.

Para guru di SMP & SMA Yapan, Sawangan, Depok sangat paham terhadap kiprah sehari-harinya, sehingga setiap kali Indra Hermawan – yang pada saat itu karirnya sebagai pegolf amatir sedang meningkat pesat – tidak pernah mengalami hambatan atau dipersulit ketika dia minta surat izin untuk tampil mewakili Indonesia dalam event Putera Cup, Asia Pacific Amateur Golf Tournament, SEA Games dan turnamen golf amatir lainnya baik yang berlangsung di dalam maupun luar negeri.

Sebagai asset dari Komda PGI Jawa Barat, Indra Hermawan justru belum pernah masuk ke dalam tim golf daerahnya di arena multi event empat tahunan tingkat nasional yang dikenal dengan PON – Pekan Olahraga Nasional.

Menabung
Setelah lulus SMA, Indra tidak melanjutkan kuliah, dengan alasan tidak ada biaya. Dia lebih intens menekuni golf sampai akhirnya – tepatnya pada awal tahun 2000 saat berusia 20 tahun – Indra beralih status dari pegolf amatir ke profesional.

Dia sadar bahwa sebagai pro harus selalu tampil all out di setiap round turnamen yang diikutinya: segala masalah yang ditemukan pada first round harus dapat diselesaikan pada saat itu. Karena, bagi seorang pro, kalau mereka pada first round performance-nya tidak seperti yang diharapkan, mereka segera harus me – recovery permainan mereka agar bisa lolos cut off…

Dan, tanpa menafikan keberadaan para kompetitornya di ajang pertarungan tingkat lokal – baik saat organisasi pro masih bernama PGPI (Persatuan Golf Profesional Indonesia) maupun PGATI (Professional Golf Association Tour Indonesia) seperti sekarang – dalam setiap local tour yang diikutinya, Indra Hermawan tampil sangat konsisten.

Meskipun begitu bukan berarti bahwa dia selalu berhasil keluar sebagai juara. Namun, terlepas dari masalah tersebut, yang jelas dalam setiap local event yang diikutinya – pro bertubuh kecil yang terkesan sangat pendiam penampilan sehari-harinya – ini di akhir turnamen senantiasa berada di zona prize money.

Indra mengungkapkan bahwa hadiah uang yang diterimanya dia tabung dan tabungan (deposito) tersebut – selain dipergunakan untuk mendukung kiprahnya di percaturan golf profesional (seperti untuk membayar entry fee, tip & caddy fee) juga dipergunakan untuk menopang kehidupan sehari-hari suami dari Ida Farida dan ketiga orang putra-putrinya yang masih kecil-kecil.

Anak (lelaki) pertama pasangan Indra Hermawan-Ida Farida saat ini masih duduk di Kelas 5 SD, sedangkan yang lainnya (anak kedua dan ketiga — keduanya perempuan) masih belum sekolah. “Tapi mereka saya ikutkan tes agar nanti kalau masuk sekolah tidak ketinggalan dari anak-anak lainnya,” kata Indra Hermawan seraya menambahkan “belum ada tanda-tanda” bahwa di kemudian hari kelak dari ketiga putra-putrinya akan mengikuti jejak sebagai pegolf.

Di akhir perbincangan, saat GolfJoy menanyakan mengenai harapannya tentang golf profesional di Indonesia, Indra Hermawan berharap agar pergolfan di Tanah Air – utamanya bagi para stake holder – tidak usah muluk-muluk bicara prestasi dunia.

Karena, kata Indra Hermawan menambahkan, kalau prestasi para golfer Indonesia mendekat ke tingkat Asia, yang kehidupan pro-nya lebih baik, hal itu saja sudah dapat dijadikan sebagai motivasi untuk merangsang generasi muda kita tidak ragu-ragu lagi menjadikan olah raga golf sebagai pilihan hidup mereka.

Dan, seperti warga negara Indonesia umumnya, Indra Hermawan pun selalu memohon kepada Allah SWT agar Pandemi Covid – 19 segera berlalu, sehingga situasi dan kondisi di negeri ini kembali berada dalam keadaan normal seperti sebelum dilanda Pandemi Covid – 19. Turnamen golf pro rutin digelar, sehingga tabungan terus bertambah dan bisa membeli stick baru – untuk mengganti stick golf yang berkarat …

(TP) – Foto Dok.Pri