Dalam konteks olahraga golf — suka tidak suka — adanya Pandemi Covid – 19 memunculkan fenomena yang menarik dengan kehadiran para golfer dari lingkungan generasi millenial terutama dan khususnya dari kalangan perempuan.

Hal tersebut adalah sesuatu yang pernah “menghantui” PB PGI dengan segenap jajarannya di tingkat Komisariat Daerah atau Komda yang kini berubah menjadi Pengprov, Pengkab dan Pengkot PGI di seluruh Indonesia pada era PB PGI dipimpin oleh Sudomo, Haryanto Danutirto, Jero Wacik hingga Arifin Panigoro.

Pada era di mana nama-nama tersebut di atas menjadi orang nomor 1 di percaturan golf nasional, setiap kali PB PGI menyelenggarakan event khusus golf amatir bagi kaum perempuan di republik ini, “New Comer” yang berpartisipasi jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari; Sehingga wajar bila pemenangnya tak beranjak dari deratan nama-nama yang itu-itu saja.

Sayang sekali fenomena yang sangat “fenomenal” yang terjadi di era pandemi tersebut tidak atau tepatnya belum  diakomodir sekaligus difasilitasi oleh para stake holder pergolfan di negeri ini dari tingkat pusat hingga ke daerah.

GOBAR

Terlepas dari masalah tersebut, yang jelas meskipun sampai detik ini belum ada data valid yang dapat dijadikan sebagai rujukan, namun fakta yang terjadi di lapangan membuktikan bahwa trend kehadiran para ladies golfer tersebut cenderung terus bertambah.

Indikatornya dapat dilihat manakala ada perkumpulan golf atau EO yang menggelar event GoBar di golf course yang tersebar di kawasan Jabodetabek dan sekitarnya. Dari 90 hingga 124 golfer yang tampil bersaing dalam GoBar tersebut minimal ada 2 hingga 3 flight khusus untuk ladies golfer.

Uniknya, selain para ladies golfer tersebut berstatus independen, tidak sedikit juga yang berhimpun dalam satu wadah atau perkumpulan. Salah satunya adalah BNI Srikandi Golfer yang anggotanya terdiri dari para karyawati BNI Pusat hingga Daerah di seluruh Indonesia.

Terbentuknya BNI Srikandi Golfer, menurut ketuanya Shinta Kristanti, yang tak lain adalah Vice President Budgeting and Financial Performance PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, karena adanya kesamaan minat dan hobby olahraga golf di kalangan pegawai wanita BNI yang tersebar – baik di kantor pusat maupun di 18 kantor wilayah di Indonesia – membuat banyaknya interaksi antar sesama BNI Srikandi Golfer. Selain terdapat pula dorongan untuk mampu bermain golf berkaitan dengan kebutuhan untuk membina hubungan baik dengan para nasabah BNI.

Menjawab pertanyaan mengapa dia yang dipilih menjadi Ketua BNI Srikandi Golf, “Mungkin lebih merujuk ke dalam hal yang berkaitan dengan berlatih, bermain dan keikutsertaan saya di turnamen golf yang sedikit lebih banyak dibandingkan Srikandi Golfer lain di BNI,” sela Shinta Kristanti yang sejak 2017 hingga sekarang namanya tercatat sebagai member dan relawan group GLS (Golf Bareng Ladies Senayan) yang hombase-nya beralamat di Senayan Nasional Golf Club.

R&A

Fenomena pandemic tersebut memang tidak terduga dan memunculkan hal-hal yang di luar dugaan. Hal ini pun diakui Eddy Putra – pakar Rule of Golf dari Indonesia.

Eddy Putra

Dikatakannya bahwa pada tahun-tahun ketika dia masih aktif di R&A — sebelum pandemic — study yang dilakukan oleh R&A menunjukkan bahwa olahraga golf adalah salah satu olahraga yang akan ditinggalkan oleh generasi millenial dan generasi berikutnya.

Berdasarkan study yang dilakukan oleh R&A, generasi millenia (generasi Z) dan seterusnya lebih memilih aktivitas elektronik (e-sport, e-games) dan aktivitas indoor yang tidak menghabiskan waktu lama (instan).

Lebih jauh Eddy Putra mengungkapkan bahwa R&A mulai berfikir untuk membuat olahraga golf lebih menarik bagi generasi millenial ini. Beberapa hal dilakukan seperti mengubah status amatir untuk mengantisipasi fenomena medsos, mengadopsi e-golf (membuat aturan-aturannya), mendorong format-format Fun Games dan ronde-ronde pendek serta mendorong industri untuk membuat golf lebih ke anak muda (fashion, perlengkapan dan lain-lain) dan beberapa hal lainnya.

“Namun fenemona pandemic malah justru ber-efek terbalik. Anak-anak millenial memilih golf sebagai kegiatan alternatif mereka,” kata Eddy Putra. “Dan, fenomena yang terjadi di sini juga terjadi di negara-negara yang ada di Asia,” tambahnya.

Hal tersebut — seperti yang ditegaskan Eddy Putra — sangat memberi harapan bagi industri golf. Karena, dengan munculnya generasi baru di olahraga golf ini, tentu akan membantu menggerakkan industri dan olahraga golf itu sendiri.

“Influencer-influencer, selegram-selegram golf bermunculan yang membuat masyarakat umum menjadi lebih mengenal golf dan menarik lebih banyak lagi kalangan untuk bermain golf.”

“Dan, dari sekian entusias-entusias baru tentunya akan lahir atlet-atlet golf yang berprestasi. Karena, seperti yang Anda katakan, mereka adalah aset yang harus didayagunakan dan didukung,” kata Eddy Putra yang menyebut “Anda” kepada Media GolfJoy, serius.

Karena, menurut Eddy Putra, negara-negara tetangga pun melakukan hal yang sama sehingga jangan sampai kita tertinggal. “Untuk itu, para stake holder golf di sini harus mengantisipasi hal tersebut dengan membuka diri merangkul namun juga membuat koridor-koridor demi kemajuan golf Indonesia.

IBU SEBAGAI PENENTU

Sementara, Feliks Haryanto, sebagai Sekretaris Jendral (SekJen) Asosiasi Pemilik Lapangan Golf Indonesia (APLGI), secara lebih spesifik merespon kehadiran atau munculnya para ladies golfer di era pandemi saat ini.

Feliks Haryanto

“Kehadiran pegolf wanita pada dasarnya tentu sangat diharapkan dan sekaligus sangat menggembirakan bagi dunia golf di tanah air,” katanya. “Karena dengan meningkatnya minat wanita muda pada dunia golf maka diharapkan juga semakin mendorong mendorong pertumbuhan dunia golf di Indonesia,” tambahnya.

Feliks Haryanto menegaskan bahwa seperti kita ketahui, kalangan ibu-ibu seringkali menjadi penentu atas kegiatan anak-anak dalam sebuah keluarga.

“Maka, dengan adanya minat untuk bermain golf yang semakin meningkat di kalangan ibu-ibu muda, juga akan mendorong percepatan regenerasi golf dan pertumbuhan golf — baik golf sebagai olahraga prestasi maupun golf sebagai industri — di Indonesia,” kata Feliks Haryanto, menegaskan.

(Tulisan dan foto oleh Toto Prawoto)

DOWNLOAD E-MAGZ GOLFJOY TERBARU GRATIS!


GolfJoy Cover