Direktur Pemasaran PT Tugu Kresna Pratama

Kemenangan Tiger Woods di The Masters, April lalu di Augusta National GC, telah membekas decak kagum di hati seorang pegolf amatir berhandicap 8 yang bernama Kemas Ahmad Yani Aziz. Spirit dan atmosfer bertanding dari para pegolf profesional dunia di Augusta, telah menginspirasi Direktur Pemasaran PT Tugu Kresna Pratama ini. Yani, begitu ia kerap disapa, punya asa pribadi, jika suatu masa kelak, dirinya ingin menjajal lapangan golf legendaris yang dibangun pada 22 Maret 1934 itu.

“Paling senang lihat The Masters di Augusta kemarin. Augusta punya spirit berbeda dibanding turnamen lainnya. Setiap pencinta sekaligus pegolf pasti punya cita-cita bermain di situ,” begitulah keinginan bapak dua orang putra bernama Kemas Ahmad Dirgam dan Kemas Ahmad Fargam. Yani pun juga berhasrat merumput di St. Andrews, yang merupakan lapangan golf tertua yang dibangun pada tahun 1754, dengan landmark yang sangat terkenal, yaitu jembatan Swilcan Bridge. “Tentunya sangat mengasyikkan dan enjoy banget bermain bersama kawan-kawan pegolf dari sini (Indonesia),” tambah Yani.

Idolakan Tiger Woods

Berkat come-back-nya Tiger Woods ke puncak top performa permainan dengan menjuarai The Masters 2019, tak ayal membuat suami dari Yuriko Okta Diani ini terkagum, sekaligus mengidolakan pegolf asal Amerika Serikat berusia 43 tahun itu. “Tetep Tiger Woods, karena dia sang fenomenal. Dia membawa perubahan bagi dunia. Saat ini, orang tua dan muda suka dan tertarik dengan fitness karena melihat badan TW (inisial Woods). Fashion TW? Apa yang dipakai, semua jadi menarik. Mulai dari topi, kaos, celana, sepatu hingga aksesoris yang melekat dibadannya,” papar Yani merinci idolanya.

Namun, teladan berupa spirit bertanding pantang menyerah, serta kesabaran TW-lah yang menjadi ditandaskan ke diri pria kelahiran Palembang, 5 Januari 1975 ini. Menurut Yani, seorang TW pada saat bertanding dan ditonton banyak orang, dirinya tidak pernah menganggap ada para penonton itu. Sehingga terciptalah pukulan “aneh-aneh” yang dilakukan Woods dari game-day ke game day dalam setiap turnamen yang diikuti.

Nah, spirit TW inilah yang saya terapkan di dunia pekerjaan. Kadang ada hal-hal yang tidak mungkin, tapi kalo kita niat dan sedikit nekat, maka hasilnya, in syaa Allah, akan bagus. Apalagi seperti saya yang bekerja di dunia marketing, maka harus berani fight, dan tidak boleh setengah hati. Karena spirit seperti itulah menjadi penting,” jelas Yani kembali.

Rebut The Green Jacket PGAI

Tahun 2019 dianggap sebagai tahun gemilang dalam pencapaian prestasi golf Yani. Pasalnya, sebagai anggota komunitas Persatuan Golf Asuransi Indonesia (PGAI), dirinya menjadi “raja” di kerajaan PGAI. Ya, Yani menasbihkan dirinya sebagai yang terbaik dan berhak mengenakan The Master Green Jacket dan hadiah uang tunai pada turnamen “Indonesia Re – PGAI Match Play 2019” yang dihelat PGAI pada 22 April 2019.

“Ini turnamen yang luar biasa, karena kalau bisa memenangkan turnamen ini merupakan impian setiap pegolf. Untuk itu, kita harus benar-benar totalitas dan fight secara fair untuk bisa meraih kemenangan ini,” ungkap Yani gembira. Di partai final matchplay, ia mengalahkan Rafiuddrajat Hasibuan dari Asuransi Pan Pacific, yang notabene mantan juara Indonesia Re – PGAI Match Play 2016, dengan skor 4up. Di turnamen ulang tahun PGAI ke-4, pun Yani memenangi tropi best gross overall dengan gross 76.

Tak ingin ditertawakan piala

Selama berkarir sebagai golf amatir sejak 1999, dimana waktu itu masih bekerja di PT Ujung Lima, perusahaan jasa logistic di Makassar, Sulawesi Selatan, sudah puluhan piala telah diraih dan memenuhi lemari khusus tropi di rumah, maupun di ruangan kantor Yani. Meski begitu, Yani tidak ingin “ditertawakan” oleh puluhan pialanya sendiri.

Fairness di golf, itu penting sekali. Jika di golf tidak fair, bagaimana mungkin kita mau berbisnis dengan jujur. Apalagi di bidang asuransi, trusting menjadi hal yang harus dijaga. Jadi bagaimana mungkin bisa dipercaya oleh nasabah asuransi, jika pada saat bermain golf saja tidak bisa bermain jujur. Jadi kalau kita menang dengan cara-cara tidak jujur, seperti merubah skor di score card, maka piala-piala yang pernah diraih akan menertawakan diri pegolf itu sendiri, karena menjadi saksi kebohongannya,” tandas Yani.

Kangen pegolf pro mentas di Olimpiade 2020

Sebagai sesama pegolf, ada rasa kangen, sekaligus keinginan dari para pegolf profesional Indonesia bisa berlaga di Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. Di mata Yani, teknis permainan pro Indonesia cukup bagus. Mereka seharusnya bisa lebih mendunia.

“Saya bertanya-tanya, apakah mereka terkendala masalah kesempatan tanding, karena tidak ada sponsor. Karena sejatinya banyak pegolf pro kita yang mumpuni dan tidak kalah dengan pro dari luar negeri,” tegas pegolf yang akui dirinya lebih jago jika bermain short game. Demi wujudkan prestasi golf pro di pentas internasional, Yani menghimbau agar setiap stakeholder golf tanah air ikut berperan aktif mendukung Danny Masrin dan kawan-kawan mewujudkan mimpi Indonesia berkiprah di Olimpiade. “Karena minim bertanding di turnamen pro, maka tak pelak, pegolf kita tidak mempunyai mental pemenang,” pungkas Yani mengakhiri percakapannya dengan Golf Joy.

Lahir di Palembang, 5 Januari 1975, Kemas Ahmad Yani Aziz menjabat sebagai Direktur Pemasaran PT Asuransi Tugu Kresna Pratama sejak 2 Maret 2017. Yani menempuh pendidikan di Strata 1 Fakultas Ekonomi/Akuntansi Universitas Tridinanti Palembang. Beberapa posisi yang pernah dijabat sebelumnya: Direktur Keuangan PT Berdikari Insurance (2010 – 2011), Direktur Utama PT Berdikari Insurance (2011 – 2013), Direktur Pemasaran tahun 2013, General Manager PT Bosowa Asuransi tahun 2016.

(Syam Al Aminy)