FeaturedKomunitas

Lapangan JGC yang Penuh Tantangan Sangat Cocok untuk Junior

Jakarta Golf Club (JGC) merayakan ulang tahunnya yang ke-150 tahun ini. Ini luar biasa, lebih dulu dari Indonesia Merdeka. Jadi, sebelum merdeka Indonesia sudah punya lapangan golf. Pemerintah menjadikan  JGC sebagai warisan bangsa dan sekaligus untuk sarana wisata olahraga. JGC juga merupakan salah satu lapangan yang memiliki program pembinaan golf junior terbaik di Indonesia.

GolfJoy bersama Iron Card menggelar webinar pada 1 Juli 2022 yang membahas bagaimana JGC mempertahankan perannya dalam menumbuhkan industri golf Tanah air sekaligus melahirkan atlet-atlet golf berprestasi sehingga menjadi contoh bagi lapangan lainnya.

Berikut petikan dari para narasumber:

Joyada Siallagan, CEO Ironcard

Kami Ironcard dan GolfJoy selalu mencari solusi dan berimprovisasi bahkan berimajinasi untuk berbuat yang terbaik bagi kemajuan golf Indonesia. Untuk memajukan dunia golf di Indonesia tidak mungkin dilakukan sendiri. Semua permasalahan di golf Indonesia bisa kita pecahkan bla kita bisa berkolaborasi, bersinergi dan berkomunikasi. Kami mengajak semua stakeholder untuk mencari cara bagaimana golf Indonesia bisa berperan lebih baik di dunia regional bahkan internasional.

Terkait topik kali ini, sebenarnya saya juga member JGC.  Lapangan ini memang sangat menantang. Berhubung pukulan saya “luas-luas”, bola saya sering hilang di hutan. Terus terang saya kesulitan menaklukkan lapangan JGC ini. Namun, saya yakin lapangan ini menjadi tempat berlatih terbaik bagi para atlet.

Ketua JGC Ramli Ibrahim

Jakarta Golf Club tidak terpisahkan dari perkembangan golf di Indonesia. JGC yang terlahir tepatnya pada bulan September 1872 merupakan lapangan tertua di Asia Tenggara dan termasuk salah satu club golf tertua di dunia. JGC pada awalnya bernama Batavia Golf Club. Lokasi awalnya berada di kawasan Gambir. Setelah tahun 1934 JGC direlokasi ke Rawamangun Jakarta. Lapangan ini tetap menjadi favorit para pegolf. Walaupun dianggap sebagai hutan kota dengan luas hanya 36 hektar lapangan ini memiliki tantangan yang membuat pegolf professional mancanegara bertekuk lutut. Hal ini dibuktikan ketika satu-satunya pegolf Indonesia, Kasiadi, pada tahun 1989 menyabet gelar juara dalam Kejuaraan Indonesia Open.

Sejauh ini rata-rata putaran per bulan di JGC hampir 4000 putaran per bulan. Kami berkomitmen untuk merawat, memelihara, dan memperbaiki masalah lapangan JGC. Semakin baik kami menjaga lapangan tetap bagus, tentunya makin banyak pegolf yang berminat untuk main di JGC.

Lapangan JGC terkenal sulit dengan banyak pohon di kiri kanan fairway dan tidak menyediakan golf cart. Meski demikian, kalau dari segmen pasar kami masih banyak pegolf yang tertarik bermain tanpa golf cart. JGC masih mempertahankan kekhasan dengan tidak menyediakan golf cart. Alhamdulillah, hal ini tidak berpengaruh kepada para pemain. Mereka tetap menyukai bermain di JGC dengan berjalan kaki atau walking golf. Di JGC masih banyak orang yang berusia 70-an tahun mau bermain golf dengan berjalan kaki. Kami tawarkan beberapa golf cart yang tersedia kepada para pegolf senior, tapi mereka tetap memilih berjalan kaki. Ini bagus juga bagi anak-anak muda untuk mencoba bermain golf dengan berjalan kaki.

Tidak seperti lapangan lainnya, JGC dimiliki oleh perkumpulan dan tidak money-oriented. Kalau ada uang masuk, kita gunakan untuk perawatan lapangan. Tidak ada unsur komersial di sini.

JGC banyak melahirkan atlet-atlet golf nasional, seperti Agnes Retno Sudjasmin, Retno Mustari yang berhasil meraih medali emas di SEA Games.

Amanah anggaran dasar JGC salah satunya adalah untuk melahirkan atlet-atlet golf nasional. Jadi kami sangat concerned, sangat fokus pada pembinaan junior. Sarananya adalah melalui Akademi JGC yang sudah berdiri selama 10 tahun. Ada 80 binaan kami dan sekitar 10-15 dari mereka menjadi atlet nasional.

Setiap pemasukan dari pemain yang bermain di JGC, kami sisihkan Rp 20.000 untuk pembinaan junior Akademi JGC. Jadi ada kontribusi dari member untuk bersama-sama membantu pembinaan junior di sini.

Roland Salakory, Tournament Director JGC

Ada 15 junior yang aktif mengikuti pelatihan di JGC dan mereka berlatih setiap hari Jumat dan Minggu. Mereka merupakan binaan dari Akademi JGC dan mendapat prioritas untuk berlatih serta bermain di lapangan JGC. Mereka bermain secara gratis di lapangan JGC.

Selama pandemi Covid-19 JGC meniadakan turnamen untuk junior. Namun, atlet-atlet binaan kami, kami kirim ke turnamen-turnamen yang diadakan di luar JGC.

Sebagai upaya pencegahan agar para junior tidak tertular Covid, kami tidak menggelar turnamen. Apabila pemerintah memberikan pelonggaran secara penuh ke depannya, kami akan segera mengadakan turnamen untuk junior.

Turnamen junior banyak digelar saat libur sekolah seperti pada Juli maupun Desember. Jadi kita manfaatkan libur sekolah untuk meningkatkan jumlah turnamen junior.

Bagi anak-anak, bermain golf di JGC itu lebih enjoy karena di sini mereka tidak menggunakan golf cart. Bagi anak-anak, golf cart memiliki risiko kecelakaan seperti terjatuh. Mereka bisa bermain dengan berjalan dan bahkan berlari. Keanak-anakan ini akan timbul saat mereka bermain dengan berjalan kaki bersama teman-temannya. Jadi lapangan ini sangat cocok untuk mereka.

Saya melihat para junior ini belum menganggap golf di Indonesia sebagai olahraga yang menjanjikan. Berbeda halnya dengan negara seperti Thailand, di mana mereka memiliki figur seperti Tiger Woods yang ibunya adalah orang Thailand. Jadi junior-junior di sana ingin menjadi seperti Tiger Woods. Jika saja Indonesia memiliki figur golf seperti Tiger Woods, saya yakin semua orangtua menyuruh anaknya bermain golf saja.

Agnes Retno Sudjasmin, mantan atlet golf Nasional

Lapangan JGC sangat cocok untuk berlatih golf. Desain fairways yang agak sempit cocok untuk menguji atau latihan mengontrol pukulan dan akurasi. Lapangan ini terlihat gampang, tapi kalau dimainkan lumayan susah karena banyak pohon dan tantangan lainnya. Selama saya bergabung di JGC dan sempat membina juga saya melihat JGC bagus sekali untuk pembinaan para junior. Mereka boleh untuk tidak menggunakan caddy sehingga mereka diajarkan untuk mandiri. Mereka belajar untuk bertanggung jawab dan menjaga serta memelihara lapangan. Mereka mandiri mengikuti peraturan yang ada.

Saya dekat sekali dengan almarhum Julius Djohan, pelatih junior JGC. Beliau seperti ayah kedua saya. Beliau adalah pelatih yang kharismatik dan sangat peduli dengan junior. Beliau sangat ingin memajukan junior-junior golf Indonesia. Almarhum meminta saya untuk membina junior JGC agar mereka bisa berprestasi dan juga memiliki etika yang baik dan pengalaman yang banyak. Beliau juga merupakan rules official yang certified, jadi beliau menekankan pelatihan pada etika dan pengetahuan rules of golf. Beliau berpesan agar anak-anak ini jangan terputus jalannya. Jika ada yang terhambat, tolong dibantu dan didorong untuk masuk program pelatihan seperti pelatda, pelatnas, SEA Games, Asian Games, dan mungkin bisa sampai Olimpiade.

Untuk menjadi atlet golf yang baik itu tidak ada yang instan, perlu proses yang panjang dan harus sabar. Latihannya harus diperbanyak dan lebih ekstra lagi.

Related posts

Kejurnas Round 1: Yoko Teratas di Putri, 6 Pegolf Putra Berbagi Pimpinan

Syam

Yang Penting Lolos “Cut Off” Dulu

Toto Prawoto

Cole Haan Gelar Golf Social Soirée x TOPGOLF, Rayakan Kecintaan terhadap Golf & Komunitasnya

Hasim

Leave a Comment

nine + fourteen =