Madelene Sagstrom telah menjalani proses penyembuhan secara mental dan penemuan jati diri selama lima tahun terakhir. Pada hari Senin dia membagikan di media sosial wawancara pertamanya di depan kamera di mana dia membahas pelecehan seksual saat masih kecil. Video tersebut diproduksi oleh LPGA sebagai bagian dari acara inisiatif Drive On mereka.

Selama 16 tahun, Sagstrom menyimpan rahasianya. Dia tidak memberi tahu siapa pun. Dan itu menggerogoti bagian dalam dirinya.

“Saya benar-benar tidak menyukai siapa saya,” kata Sagstrom dalam video tersebut. “Saya bahkan tidak bisa memakai body lotion di kaki saya karena saya sangat membenci tubuh saya karena apa yang orang lain lakukan terhadap saya.”

Sagstrom dibesarkan di Enkoping, Swedia. Suatu hari, sebagai gadis berusia 7 tahun, dia mengunjungi rumah seorang teman keluarga laki-laki. Dia sering melakukan perjalanan dengan abangnya, tetapi hari itu dia pergi sendiri. Selama kunjungan itulah Sagstrom mengalami pelecehan seksual. Dia ingat pelecehan yang terjadi pada satu kesempatan itu, tetapi dia mencoba untuk menyingkirkan itu dari pikirannya dan menganggapnya bukan masalah besar. Orang lain mengalami yang jauh lebih buruk, katanya pada dirinya sendiri. Dia terjun ke golf. Dia meneguhkan harga dirinya dengan penampilannya di lapangan golf.

“Golf berubah menjadi benda yang menyerap semua energiku,” Sagstrom menjelaskan. “Saat saya bermain golf dengan baik, saya adalah orang yang baik.”

Tetapi ketika Sagstrom berlatih dengan pelatih dan mentornya, pemain PGA dan European Tour Robert Karlsson, untuk mengendalikan emosinya di lapangan golf, dia menyarankan Sagstrom untuk mencari alasan yang lebih dalam penyebab ledakan emosinya.

“Saya terkadang kepikiran hal itu. Saya menganggap itu tidak penting. Mari kita kesampingkan itu,” kata Sagstrom ketika dia memikirkan tentang pelecehan itu. “Tapi itu terus muncul. Itu terus muncul. Dan saya seperti, mungkin ada sesuatu di sana. Mungkin aku harus memberitahunya.”

Di sebuah kamar hotel di Greenwood, Carolina Selatan, pada 2016, Sagstrom membagikan rahasia itu kepada Karlsson. Air mata yang mengikutinya dan pelepasan emosional yang dia rasakan, membebaskannya untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.

“Saya bisa melihat dia merasa lega setelah membicarakannya,” kata Karlsson dalam video yang dibagikan Sagstrom di media sosial. “Itu adalah hal emosional yang kuat bagi saya bahwa dia mempercayai saya.”

Pada 2017, Sagstrom secara terbuka membagikan ceritanya untuk pertama kalinya. Dia berpartisipasi dalam kampanye di Swedia, “Inte ensam, aldrig glömd,” yang diterjemahkan menjadi “Tidak sendiri, tidak pernah terlupakan.” Sebagai bagian dari kampanye, Sagstrom mengungkapkan di Facebook pelecehan yang dialaminya, rasa sakit yang dideritanya, dan jalannya menuju penyembuhan. Pertama dan terpenting, Sagstrom berharap pesan itu akan menjadi pelipur lara bagi siapa saja, yang seperti dia, pernah hidup dengan rahasia pelecehan seksual. Dia ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Sagstrom mengatakan hal itu di akhir video media sosialnya baru-baru ini, yang menyertakan nomor telepon hotline pelecehan seksual.