Golf adalah permainan mental, terutama di level yang lebih tinggi. Inilah mengapa penting bagi pegolf untuk mengembangkan ketangguhan mental yang kuat saat bertanding di turnamen.

Dalam golf, keputusan, pikiran, gambaran, dan perasaan pemain mengatur setiap swing.  Pelatihan mental membantu pemain mengembangkan keterampilan mental utama untuk melengkapi aspek fisik permainan mereka. Untuk membahas hal ini, GolfJoy bersama Ironcard kembali menggelar webinar dengan tema “Membentuk Mental Game yang Solid di Turnamen” pada Senin, 31 Januari 2022. Webinar ini menampilkan narasumber Joyada Siallagan, CEO Ironcard; Ahris Sumaryanto, juara dunia woodball; Hasanuddin, ayah Rayhan Abdul Latief yang merupakan atlet golf amatir berprestasi; dan Benny Kasiadi, golfer profesional pendiri BK Management.

Berikut kutipan dari para narasumber.

Joyada Siallagan, CEO Ironcard

Kami di Ironcard bersama GolfJoy tergerak untuk ikut berkontribusi bagi perkembangan prestasi para junior golf Indonesia. Untuk itu kami selalu mendukung turnamen golf junior berprestasi. Lewat turnamen ini kita berharap bisa terlahir atlet-atlet yang bisa mengharumkan Merah Putih di pentas internasional. Kami mengajak seluruh stakeholder golf untuk berkolaborasi tanpa sekat demi kemajuan golf Indonesia.

Ahris Sumaryanto, juara dunia woodball

Saya sebagai atlet memasang target menjadi seorang pemain legend, tidak hanya sekadar juara. Kita mencari juara yang stabil. Itu yang kita cari seharusnya. Dulu saya latihan mulai dari pukul 05:00 subuh sampai pukul 12:00 malam.

Atlet harus memiliki dua hal, pertama adalah tujuan utama. Tujuan utama saya adalah membela Merah Putih. Bila kita mampu mengibarkan bendera Merah Putih di negeri orang kenikmatannya luar biasa. Hal kedua adalah menjaga attitude dan etika. Etika menyangkut kedisipilinan, tanggung jawab, kejujuran. Attitude ini contohnya sikap kita yang baik kepada orangtua, para senior. Saya berharap para atlet kita tidak meremehkan attitude dan etika ini. Sebagai atlet saya tidak menyentuh rokok atau minuman keras, meskipun sedikit. Rokok dan minuman ini memiliki dampak negatif. Saya tak ingin menuruti keinginan ke arah negatif. Tidak merokok itu merupakan kedisiplinan. Saya juga menyarankan para atlet untuk mengurangi penggunaan media sosial karena ini bisa merugikan. Saya hanya menggunakan media sosial untuk memantau para pesaing saya.

Agar kita selalu menjadi lebih baik, prinsip saya adalah jadilah orang bodoh yang selalu ingin menjadi pintar. Hari ini juara, besok bisa jadi tidak juara. Hari ini saya juara, besok saya menjadi orang bodoh lagi untuk jadi juara.

Attitude dan etika merupakan fondasi kita dalam mengejar prestasi. Kalau kita tidak punya dasar etika, pada saat kita tinggi, saat kita dielu-elukan, kita tidak akan memiliki fondasi yang kuat.

Hasanuddin Abdul Latief, ayah Rayhan Abdul Latief, atlet golf berprestasi

Rayhan mlai belajar golf di usia 8 tahun dan dia menyenangi olahraga ini. Jika dia menolak perintah orangtuanya, kami hanya bilang ke Rayhan kamu tidak usah golf lagi. Dia takut sekali kalau dilarang bermain golf. Saat Rayhan berusia 10 tahun, seperti anak-anak lainnya saat di lapangan dia bermain seenaknya sendiri. Padahal dia sudah memahami bagaimana putting, chipping yang baik dari pelatih asal Australia Tony Blacker. Saya jadi marah ke Rayhan, malah saya sampai teriak kasar di lapangan. Saya ingin agar anak saya ini bisa jauh lebih baik dari pegolf lainnya.

Saya bersama istri saya dan Rayhan berdiskusi dengan seorang psikolog. Psikolog itu menilai saya terlalu menghendaki Rayhan menjadi  sangat hebat. Padahal, kehebatan didapat bukan karena teriakan atau kemarahan, tapi oleh kemauan latihan yang tinggi, keseriusan, konsentrasi. Itu akan menghasilkan keberhasilan. Saya diminta psikolog itu agar saya tidak mendampingi Rayhan saat dia bertanding. Hanya ibunya yang boleh mendampingi Rayhan. Saya hanya boleh berada di clubhouse.  

Saya bertanya ke Rayhan apakah dia mau naik kelas sekarang atau nanti.  Dia menjawab sekarang. Karena itulah Rayhan ditempa untuk terus berlatih agar bisa cepat naik kelas dalam golf. Saat dia di kelas D dia didorong untuk segera bisa bersaing di kelas C. Saat di kelas C dia dimotivasi untuk bisa bersaing di kelas B hingga A, sehingga dia bisa bersaing dengan kakak-kakak kelasnya. Hal ini memberikan kepercayaan diri kepadanya bahwa dia bisa bersaing dengan pemain yang lebih senior. Peran orangtua sangat penting dalam mendorong anak untuk bisa berprestasi. Namun, saya berpesan kepada para orangtua janganlah mencoba memaksakan anak melebihi kemampuannya. Ini bisa berdampak buruk bagi permainan anak itu sendiri.

Rayhan Abdul Latief (dalam kesempatan terpisah)

Mental game bisa dilihat dari berbagai segi, mau dari segi skill, fisik, psikologi. Itu semua bisa dijadikan mental game. Para coach dunia saat melatih para junior menekankan pelatihan skill dulu. Kalau skill sudah terbentuk, pasti mental game terbentuk pula dari dirinya. Fisik dan psikis harus saling mendukung dalam membentuk mental game yang baik karena dari sini timbul kepercayaan diri. Fisik yang bagus tapi tidak didukung psikis yang baik tentu berpengaruh pada hasil permainannya. Faktor psikologis sangat berpengaruh bagi atlet. Bagaimana dia bisa mengendalikan diri, menahan diri, ini penting sekali. Faktor psikologis ini menjadi hal yang pertama yang harus saya perhatikan. Hal berikutnya yang menjadi perhatian adalah fisik. Selanjutnya yang menjadi perhatian saya adalah skill. Skill permainan ini sudah saya kuasai sehingga bagian ini menjadi yang terakhir yang saya perhatikan sebelum turnamen.

Benny Kasiadi, golfer profesional pendiri BK Management

Pembangunan karakter mental bisa dilihat dari dua hal, pertama cara latihannya. Golf melibatkan banyak pukulan mulai dari driving, chipping hingga putting. Mental game ini terkait erat dengan disiplin program latihan itu sendiri. Latihan porsi atlet dimulai pukul 7 pagi sampai istirahat siang dilanjutkan sampai matahari terbenam. Setiap latihan baik di driving range atau lapangan harus evaluasi. Porsinya tidak sama bagi masing-masing anak. Mental game terbentuk dari latihan itu sendiri.

Hal kedua yang membentuk mental game berasal dari karakter seseorang, seperti  ketenangan bermain. Saya himbau para junior agar jujur kepada coach-nya. Jangan selalu mengikuti arahan coach-nya. Penting bagi junior untuk berkomunikasi dengan coach mengenai keterbatasannya. Coach harus memiliki open mind untuk menerima masukan dari atlet. Komunikasi harus terjalin dengan baik antara coach dan muridnya. Attitude penting sekali untuk melahirkan seorang juara. Saya punya motto: Beri saya 10 player yang ber-attitude bagus maka saya bisa ciptakan juara dari mereka.  Tapi bila saya mendapat player  yang bermain bagus tapi attitude tidak bagus, itu celaka buat saya.

Ayah saya [legenda golf Indonesia Kasiadi – Red.] sangat keras dalam mengajarkan golf ke saya. Ayah menyiapkan rotan dan shaft untuk “mendisiplinkan” permainan saya. Jika saya melakukan  kesalahan dalam melakukan pukulan, ayah saya mengayunkan rotan ataupun shaft ke tubuh saya. Itu sarapan saya tiap hari. Dari dulu saya sudah diajarkan tentang statistik golf oleh orangtua saya sebelum adanya teknologi pengukuran swing seperti sekarang ini. Statistik “Made in Kasiadi” ini sama saja seperti statistik sekarang, seperti pengukuran pukulan drive, fairway, chipping.  Saya dilatih oleh ayah bisa sampai jam 11 malam.

Kedisiplinan yang diajarkan oleh orangtua saya, saya teruskan ke anak didik saya, tapi tentunya bukan dengan rotan dan shaft. BK Management ini tempatnya orang yang ingin benar-benar berlatih golf, orang yang ingin juara. Jika ingin berlatih golf sambil fun, mohon maaf, sebaiknya cari tempat berlatih yang lain. Saya ingin memberikan tongkat estafet yang pernah saya pegang ke junior-junior saya.  Kita jangan berpikir untuk berprestasi hanya di Indonesia. Kita harus bisa berprestasi di Asia bahkan dunia. Kita harus bisa menjadi legend, seperti yang Mas Ahris sebutkan.

DOWNLOAD E-MAGZ GOLFJOY TERBARU GRATIS!


GolfJoy Cover