oleh Toto Prawoto

KATA ini begitu sering diucapkan oleh masyarakat Indonesia terutama di Bulan Suci Ramadhan. Uniknya, kata tersebut menjadi awal pembicaraan bagi siapa saja dan di mana saja bila mereka menjalin komunikasi antar teman: teman bisnis, teman arisan, teman gowes, teman main golf dan lain sebagainya.

Pada sekitar 1990-an seorang rekan jurnalis dari negeri jiran Malaysia, yang sering penulis jumpai di lapangan golf di kawasan Jabodetabek yang dijadikan host event professional yang masuk ke dalam calender of event-nya Asian Tour, menanyakan arti yang sebenarnya dari kata Ngabuburit tersebut.

Setelah penulis jelaskan bahwa Ngabuburit itu adalah idiom atau ungkapan yang berasal dari Bahasa Sunda, yang artinya “Menunggu waktu untuk berbuka”, kawan jurnalis dari negeri jiran Malaysia tersebut menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Karena dibayangi rasa penasaran, penulis mendesak pak Cik (begitu penulis menyapa rekan jurnalis dari negeri jiran Malaysia tersebut) untuk menjelaskan mengapa dia begitu besar rasa ingin tahunya dengan kata Ngabuburit tersebut.

“Bang,” kata pak Cik menyapa penulis, “awak tanya itu karena awak ingin lebih paham apa itu arti daripada kata ngaburit … Awak baca kata ngabuburit itu di poster yang terpasang di papan informasi yang ada tak jauh dari meja resepsionis.”

Perbincangan terhenti karena cart yang disediakan panitia turnamen untuk wartawan peliput telah disiapkan, dan petugas starter mempersilakan kami berdua untuk menggunakan cart tersebut.

Setelah berkeliling mengikuti perjalanan para professional golfer sebanyak sembilan hole, penulis ijin untuk kembali turun di area parkir cart.

Penulis segera menuju papan informasi yang terletak tidak jauh dari meja resepsionis. Ternyata di papan informasi tersebut memang benar ada tertempel poster tentang kegiatan Ngabuburit sambil Bermain Golf Bersama.

Maka begitu pak Cik kembali ke Committee Room, langsung saya “hadang” dan tanpa basa-basi lagi saya langsung mengatakan pantas jurnalis pak Cip bertanya arti kata Ngabuburit. Karena, patut dapat diduga pada era 1990-an di negeri jiran Malaysia rupanya masih dianggap tak lazim “menunggu waktu berbuka” diisi dengan kegiatan bermain golf bersama. Betul bahwa pejabat negara di negeri jiran tersebut memang tidak melarang warganya “menunggu waktu berbuka” atau Ngabuburit dengan melakukan kegiatan olahraga.

Tapi, ketika penulis bercerita kalau Ngabuburit itu bisa saja dilakukan di tempat khusus seperti hotel, restaurant dan lain-lain serta tempat-tempat umum seperti di golf course yang ada dan tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia, pak Cik diam termangu dan tidak keluar sepatah-dua-patah kata pun dari mulutnya. Dia hanya geleng-geleng kepala dan heran sekaligus kagum yang diekspresikannya melalui lontaran kata ckckckck …

Boleh jadi situasi dan kondisi saat ini di negeri jiran tersebut sudah berubah – seiring dengan perjalanan sang waktu dan era yang terus berubah.

                                                                             ***

Golf menjadi salah satu kegiatan ngabuburit paling seru.

YANG PASTI, sejak pertama kali penulis aktif meliput kegiatan olahraga golf dari era Sudomo sampai era Murdaya Po, bicara masalah Ngabuburit memang sangat mengasyikkan. Karena, baik pengelola golf course maupun komunitas golf yang sering menyelenggarakan kegiatan Ngabuburit di Bulan Suci Ramadhan, mereka seolah tidak pernah kehabisan ide dan kreatifitas mereka agar Ngabuburit yang telah menjadi agenda “annual event” mereka masing-masing, semakin menarik dan mengundang banyak golfer untuk berpartisipasi.

Betul bahwa sampai hari ini penulis belum memperoleh data yang valid tentang golf course mana di negeri ini yang pertama kali menggelar event Ngabuburit. Tapi, terlepas dari masalah tersebut, yang jelas setiap tahun kegiatan Ngabuburit sambil bermain golf tetap ada – dengan partisipan yang jumlahnya cenderung terus bertambah terutama di masa pandemik seperti sekarang.

Beberapa pegolf yang sempat dihubungi dan penulis bertanya kepada mereka pada Ramadhan tahun ini akan Ngabuburit di golf course mana, dengan nada yang sama mereka mengungkapkan bahwa Ngabuburit sambil bermain golf di golf course mana saja situasi dan kondisinya tetap tidak jauh berbeda.

Menurut mereka, yang membedakan bermain golf pada bulan atau hari-hari biasa dengan Ngabuburit di bulan Ramadhan, hati dan pikiran kita benar-benar diuji untuk tetap bisa berpegang teguh pada prinsip dasar dari Ramadhan sebagai Bulan Suci itu sendiri. “Pasti Anda yang sudah puluhan tahun meliput event golf, paham dengan apa yang saya maksud,” ujar salah seorang di antara beberapa pegolf yang penulis hubungi tersebut (sayang sekali beliau minta dengan hormat agar jangan disebutkan namanya) sambil tertawa.

“Yang pasti, Mas,” tambah pegolf yang minta dengan hormat agar jangan disebutkan namanya tersebut, “di Bulan Suci ini kita semua terutama rekan-rekan golfer di mana pun domisili mereka adalah saatnya kita untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan uluran tangan kita untuk membantu kaum dhuafa ..!”