Golf itu “Game of Lobbying Facilities”

Tak perlu waktu lama bagi Novrihandri, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (IKAFE Unand), untuk terjun ke lapangan golf setelah mengenal golf pertama kali di tahun 1999. Cukup menghabiskan 1.000 bola di driving range, dia sudah berani turun langsung ke lapangan. Sejak itu mantan Direktur Keuangan Angkasa Pura 1 ini merasakan manfaat besar dari olahraga golf. Kepada GolfJoy, kini Komisaris Utama PT Angkasa Pura Logistik ini memaparkan arti penting golf bagi dirinya dan turut menyumbang saran bagaimana membangkitkan minat terhadap olahraga ini di Indonesia.

Saya diperkenalkan dengan olahraga golf oleh bos saya, yaitu Direktur Keuangan AP 1 tahun 1998, menjelang dipromosikan menjadi asisten manager di Bandar Udara Syamsudin Noor-Banjarmasin. Bos saya menyarankan untuk mulai bermain golf selagi masih dinas luar Jakarta.  Saya saat itu masih muda dan lapangan di daerah lebih murah, masih banyak waktu untuk belajar olahraga ini dan yang terpenting adalah salah satu sarana ketemuan dengan orang-orang penting di Banjarmasin. Dan dari beliau juga yang bilang bahwa Golf itu adalah singkatan dari “Game Of Lobbying Facilities” dalam arti positifnya. Kenapa demikian? karena di olahraga ini kita mempunyai waktu minimum 5 jam bisa berkomunikasi, berkoordinasi, berjualan dan bahkan mencari solusi dalam berbagai hal. Saya belajar golf dari seorang pelatih pro lokal di lapangan Swargaloka-Banjarmasin dan saya hanya menghabiskan 1.000 bola di driving range—sekira 1 bulan berlatih pukulan—untuk langsung terjun ke lapangan.

Ada yang bilang golf itu kepanjangan dari “game of lobbying facilities”, permainan fasilitas lobi. Itu memang benar, tentunya dalam arti yang baik. Nilai-nilai golf bisa kita terapkan di kantor, seperti bagaimana kita melatih kesabaran, bagaimana kita menetapkan target, tidak boleh emosian. Itulah hebatnya golf.

Saya sudah dua kali hole in one, tapi sayangnya bukan di turnamen. Kalau kejadiannya di turnamen mungkin saya sudah punya dua mobil dari HIO. Yang pertama di Rainbow Hills, hadiahnya berupa sertifikat dan kupon main. Hole-nya saya lupa, yang jelas saya pakai iron 7. HIO yang kedua di Pandawa Bali, lapangan yang terdiri atas par 3 semua.

Pertama kali saya bermain golf di luar negeri adalah di Australia. Ini pengalaman yang menarik bagi saya karena bermain golf sambal ditemenin kangguru yang berkeliaran. Pengalaman lainnya adalah petugas airport di negara ini sangat ketat memeriksa Golfer yang akan bermain golf di sana. Dan kebetulan kita membawa peralatan golf lengkap berikut semua sepatu. Hal ini disemprot semua dengan disinfektan seperti yang sekarang kerap dilakukan dalam masa Pandemi COVID-19. Pada saat disana, kita main golf di Joondalup Golf Course Perth dengan ditemani partner dari Westralian Airport Company. Lalu pengalaman lainnya adalah kita bermain tanpa ditemani caddy sehingga kita diminta lebih konsentrasi lagi melihat arah bola serta mesti harus percaya dengan diri sendiri saat akan melakukan pukulan putting di green. Jadi catatannya adalah kita harus main mengandalkan kompetensi diri kita sendiri dalam menentukan arah pukulan sampai “in the hole”.

Adapun member golf yang saya miliki adalah di Senayan National Golf Course dan di Jakarta Golf Course yang merupakan Lapangan Golf Tertua di Jakarta. Namun di Jakarta Golf Course ini sangat jarang sekali main dikarenakan lebih banyak main di berbagai lapangan golf lainnya. Padahal lapangannya asyik karena pertama tengah kota, rindang enggak panas, lapangannya sempit untuk melatih presisi serta yang lebih asyik adalah jalan kaki sehingga kita bener-bener berolahraga. Biasanya kalau kita main untuk 18 hole itu bisa mendapatkan hasil jalan kaki 7-8 km.

Pegolf favorit saya dari dulu tetap Tiger Woods. Meski tersandung skandal dan juga beberapa kali cedera, dia tetap fenomenal. Saya perhatikan belakangan ini emosinya keliru. Kalau dulu dia bermain lepas, tapi sekarang dia sepertinya bermain banyak mikirnya. Kalau pegolf terlalu banyak mikir malah tidak jelas permainannya. Untuk mengendalikan emosinya, Tiger Woods sering mengunyah bubble gum. Mungkin dia terbebani oleh nama besarnya sendiri sehingga dia jadi terlalu banyak mikir.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan agar golf kita berkembang. Golf di Indonesia masih menjadi olahraga yang mahal. Ini yang menjadi penghambat perkembangan golf di Tanah Air. Prestasi pemain profesional kita pun tidak berkembang. Cobalah lapangan itu dibagi menjadi segmen untuk kelas pelajar atau atlet dengan harga yang lebih murah. Contohnya di Emeralda ada PAGI (Perkumpulan Akademi Golf Indonesia) atau mungkin sudah ada juga di beberapa lapangan lainnya. Itu bagus untuk pembinaan generasi muda golf. Hal yang kedua adalah perbanyak turnamen. Atlet itu harus sering ikut turnamen kompetitif agar prestasinya semakin membaik. Mereka pun harus mencoba banyak lapangan, tidak hanya lapangan itu-itu saja. Kalau turnamen ini dibenahi dengan baik oleh PB PGI maupun PGATI, saya yakin golfer kita banyak berbicara di dunia internasional. Di China dan Korea olahraga golf masuk dalam kurikulum sekolah. Di Amerika pun golf masuk dalam ekstrakurikuler sehingga olahraga ini menjadi salah satu favorit anak sekolah. Saya yakin PGI dan PGATI sudah menyadari hal ini.