FeaturedKomunitas

PB PGI Ingin Ciptakan Pemegang Poin WAGR Sebanyak-Banyaknya

“Kita sudah tidak boleh lagi kasih gampang ke anak-anak. Kita harus buat mereka susah.” 

Pada gelaran IAGC IAGOT #4 di Pondok Cabe Golf Club, Jum’at hingga Sabtu, 6-7 September 2024, akhirnya memunculkan Rama Oksha Aridya sebagai juara lewat babak play-off. Dan lawannya, Nicolas Einsa Santoso, untuk kali perdana mencatatkan namanya masuk kedalam daftar peraih poin WAGR.

Sontak saja, prestasi tersebut menjadi catatan positif pada pertumbuh-kembangan para junior golfer Indonesia, sekaligus, membuat gembira dan bangga Ketua Indonesian Amateur Golf Championship (IAGC) yang juga menjabat sebagai Ketua Sub Bidang Junior PB PGI Andri Armansjah.

Namun demikian, Andri Armasjah punya dua catatan penting untuk menjadi perhatian para junior golfer dan pula para orang tuanya.

SHOW MORE IMAGES+

Perbanyak pemegang poin WAGR

Pertama, turnamen IAGC IAGOT #4 kali ini digelar dalam rangka mengisi kekosongan waktu, dimana para pegolf junior dan amateur Indonesia sudah banyak terfokus, dan bahkan sudah ada yang menuju venue Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI di Royal Sumatra, Medan, Sumatera Utara, guna pematangan persiapan mereka.

Untuk itulah, IAGOT seri ke-4 ini dipergunakan sebaik-baiknya bagi junior golfer untuk mendapatkan poin WAGR pertama mereka. Sebut saja seperti Harjuna Pajero Arbi, Nicola Einsa Santoso, Vivaldi Zaki, Stanley Ethan Hollyhomes, Calviano Yesaya Siahaan, duo kembar M. Fadhlan Athallah – M. Farhan Athallah, bahkan Domikus Glenn, salah satu anggota PON dari Provinsi Banten, yang ternyata namanya sudah tidak ada lagi didaftar ranking WAGR terkini.

“Misi saya pokoknya menciptakan poin WAGR untuk anak-anak dengan jumlah sebanyak-banyaknya. Terpenting syarat WAGR terpenuhi, maka kita jalankan. Nggak penting berapa anak yang ikut main. Ayo anak-anak semua, tetep semangat ya Jero (Pajero Arbi), tetep semangat nanti waktunya akan tiba kok… ini (pencapiaan new WAGR) adalah hadiah untuk Nic Einsa sebelum dia balik ke Amerika. In syaa Allah, kita buat lagi diawal Oktober nanti,” demikian ungkap Ketua IAGC Andri Armansjah.

Menurut Andri lebih lanjut, atas kebijakan yang telah ia buat bersama Ketua Bidang Kejuaraan dan Prestasi Adi Saksono, bahwasanya PB PGI akan terus mengakselerasi pencapaian poin WAGR terhadap junior golfer dan amateur Indonesia. Artinya, PB PGI menginginkan adanya, minimal, 100 junior golfer dan amateur Indonesia yang memiliki poin WAGR. 

Saat ini, didaftar ranking WAGR, baru ada 37 pegolf putra dan 20 pegolf putri. Sejatinya, Indonesia bisa menambah menjadi 50 pegolf putra, dan 40 pegolf putri yang memiliki atau terdaftar di WAGR.

“Sebagai perbandingan dengan Malaysia, apalagi Thailand dan lain sebagainya, Indonesia ini paling sedikit pegolfnya yang berada di perankingan WAGR. Kepingin saya dari dulu, overall, kita punya 100 pegolf, 50 putra dan 40-an putri yang punya ranking WAGR. Seandainya mereka semua punya WAGR, maka tujuannya sudah jelas, bila bertanding di luar negeri maka akan ada hasilnya, yakni collecting point. Lalu mendapatkan pengalaman berharga bertanding didalam kompetisi yang strong field. Sehingga kalau mereka ingin bersekolah atau kuliah di luar negeri, apalagi ingin mendapatkan beasiswa, maka prestasi mereka selama berkompetisi di luar negeri dan poin WAGR, tentunya menjadi pertimbangan pihak sekolah atau universitas untuk menerima mereka sebagai student scholarship-nya,” tandas Andri Armansjah lebih lebar.

Selanjutnya, dibeberapa turnamen junior – amateur di luar negeri juga memberikan akomodasi dan green fee gratis bagi para undangan (player invitation) tersebut yang memiliki ranking 1 hingga 500 besar WAGR. Atau hanya membayar green fee sebesar 50 persen bila menyandang ranking 501 hingga 700 WAGR. Begitulah benefit yang didapat jika junior dan amateur memiliki poin WAGR.

Pegolf Divisi A dan B Putra bermain dari Black tee

Kedua, pasca hasil yang dituai Tim Merah Putih di kejuaraan Putra Cup, Lion City Cup, Kartini Cup dan Santi Cup di Seletar Country Club, Singapura pada Juli lalu, maka kedepannya, di setiap turnamen junior dan amateur domestik akan diberlakukan tee-shot dari Black Tee bagi peserta A dan B divisi putra, dan untuk A dan B putri beberapa tees-nnya dimajukan dari Biru bila dipandang perlu.

“Saya juga sudah berbicara dengan Deny Uneputty, ‘Den, mulai per IJG PL (Premier League) besok, tolong anak-anak jangan main dari Biru untuk divisi A dan B’. Kenapa? Karena efeknya mereka jebol (skornya red.) karena terbiasa bermain gampang di sini. Kedepannya, PCGC dan IAGOT juga bermain dari Hitam. Anak-anak sudah nggak boleh dikasih gampang. Kalau perlu, jika memungkinkan, pin position-nya dikasih ditempat sulit biar mereka belajar sedari di dalam negeri. Mendingan mereka jelek di dalam negeri daripada jeblok di luar negeri. Di luar kan banyak yang nonton. ‘Wah Indonesia payah nih’. Terbukti kemarin di Indonesia Open hanya menyisakan Gabriel Hansel dan Peter Gunawan yang lolos. Ya sudah, jangan cari gampangnya, kita bikin susah aja,” tandas Andri Armansjah.

Well, dari penjabaran secara terang dan gamblang oleh Ketua IAGC dan Ketua Sub Bidang Junior PB PGI diatas, kiranya menjadi sebuah pertimbangan dan acuan dari pada penyelenggara turnamen berlabel junior dan amateur berprestasi nasional kedepannya.

Sejatinya, seluruh stakeholder golf Indonesia harus memikirkan bagaimana pegolf-pegolf junior dan amateur kita mampu bertahan atau bertarung dengan spartan dan pantang menyerah di turnamen atau kompetisi internasional. “Jangan sampai kita babak belur ketika bertanding di luar, tetapi bermain bagus di dalam negeri. Maunya dan idealnya sih keduanya bisa beriringan sejalan,” tutup Andri Armansjah menyudahi sesi wawancaranya dengan Media GolfJoy Indonesia.

(Foto oleh Syam Al Aminy)

Related posts

Amplop Covid Mulai Diterapkan di Ryder Cup Minggu Ini

Hasim

Keegan Bradley Bertahan untuk Juarai BMW Championship yang Kedua

Hasim

Joburg Open Finis hanya 36 Hole, Thriston Lawrence Ditetapkan Juara

Hasim

Leave a Comment

five × four =