Sekitar 10 tahun terakhir tingkat kunjungan para pegolf ke lapangan menurun dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Hal ini terungkap dalam pertemuan atau diskusi terbuka antara Asosiasi Pemilik Lapangan Golf Indonesia (APLGI) dan para stake holder di percaturan golf nasional yang berlangsung di Pondok Indah Golf Club pada Kamis 4 Februari 2021 secara virtual.

Diskusi ini sungguh sangat menarik. Pasalnya ada hal yang selama ini tidak diketahui oleh publik khususnya dan utamanya oleh pers, seperti misalnya tentang seberapa tinggi jumlah atau tingkat kunjungan pegolf ke golf course per-bulan dan atau per-tahunnya – mulai sedikit terungkap meski tanpa didukung data yang valid sebagai rujukan.

Akan tetapi terlepas dari tidak adanya dukungan data yang valid sebagai rujukan, yang jelas dalam acara bertajuk SOSIALISASI DAN KICK OFF PROGRAM REGENERASI GOLFER, Daya Zakir selaku Ketua II APLGI dalam sambutannya antara lain menyebut bahwa sejak sekitar 10 tahun terakhir tingkat kunjungan para pegolf ke golf course menurun dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya.

Oleh karena itulah APLGI – sebagaimana yang diungkapkan Daya Zakir – menggelar pertemuan atau dialog bertajuk SOSIALISASI DAN KICK OFF PROGRAM REGENERASI GOLFER secara virtual yang diikuti lebih dari 90 peserta.

Dalam kegiatan yang direspon sangat positif oleh para pemangku kepentingan di percaturan golf nasional tersebut, APLGI juga memperkenalkan Unithree – sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa Marketing Communication – sebagai rekanan yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memasarkan olahraga golf kepada generasi millenial.

Dan, APLGI tidak salah pilih melibatkan Unithree. Karena, selain perusahaan jasa marketing communication tersebut sangat berpengalaman di bidangnya, para generasi millenial yang tercatat sebagai kreator di dalam jasa marcom tersebut pun sama sekali tidak mengalami hambatan saat mereka mempresentasikan apa yang sudah dan akan mereka lakukan — terutama dalam kaitannya memperkenalkan olahraga golf kepada kaum millenial.

REKREASIONAL

Dalam perbincangan usai acara tersebut berakhir, kepada GolfJoy, pakar rules of golf Indonesia Eddy Putra menyatakan bahwa inisiatif APLGI memang lebih kepada kegiatan marketing untuk menambah segmen pemain golf di tanah air dan segmen tersebut cenderung ke arah pegolf rekreasional. “Tapi, tidak tertutup kemungkinan kelak akan muncul pegolf prestasi dari kalangan pegolf rekreasional ini,” katanya.

Eddy Putra

Seluruh dunia usaha, Eddy Putra menambahkan, memang terdampak oleh pandemi tidak terkecuali industri golf, sehingga menuntut inisiatif untuk  bisa tetap eksis. “Ini memang merupakan fenomena dan Badan Otoritas Golf Dunia juga merasakan situasi ini,” Eddy Putra menegaskan.

Dan di era seperti yang terjadi saat ini golf memang memiliki potensi karena merupakan kegiatan out door dan interaksi antar manusia bisa diminimalkan sehingga momentum ini harus dimanfaatkan.

“Dari sisi tersebut inisiatif APLGI  saya rasa sangat positif,” ujar Eddy Putra. “Sekarang tinggal bagaimana mengkompromikan dengan praktik normatif yang selama ini berjalan,” tambahnya.

PGAI SIAP BERKALABORASI

Hal yang sama juga diungkapkan oleh pengamat dan komentator golf Wahyu “Uke” Hendarman. Bahkan secara tegas Uke menyatakan PGA Indonesia mendukung program yang dicanangkan APLGI.

Wahyu “Uke” Hendarman

“PGA Indonesia siap berkalaborasi dengan setiap stake holders di industri golf di Indonesia sesuai dengan kemampuan, keahlian dan kapasitas serta kapabilitas anggota PGA Indonesia,” tegas Uke sambil menambahkan, terkait dengan penggunaan gadget, sosmed dan lain-lain anggota PGA Indonesia juga telah melakukannya bahkan beberapa di antaranya memiliki followers yang jumlahnya ribuan.

BLUE PRINT PROGRAM

Terkait dengan upaya besar dari Unithree sebagai Marketing Communication yang dipercaya oleh APLGI, pengelola Driving Range Palm Hill Bagus W. Kurniadi mengusulkan agar dibuat Blue Print program yang terintegrasi dan melibatkan seluruh asosiasi di industri golf.

Blue print atau cetak biru tersebut meliputi program pemassalan melalui sektor pendidikan dengan mengenalkan olahraga golf dengan cara yang lebih bervariasi dan lebih kreatif sesuai tingkatan usia.

Selain itu juga kesediaan lapangan menyiapkan program bagi pemula dengan program yang menarik dan inovatif. “Dan kalau perlu harus di luar kebiasaan yang ada. Misalnya bermain tanpa caddy, satu caddy dalam satu flight,” katanya.

Terakhir, papar Bagus WK, setiap driving range membentuk atau menyiapkan SDM-nya agar program welcome kepada new market based pada saat mereka berada di driving range dengan program dan ambience yang menyesuaikan dengan market.

Menjawab pertanyaan mengenai apa harapan mereka untuk laju pertumbuhan olahraga golf di Indonesia, baik Eddy Putra, Wahyu “Uke” Hendarman maupun Bagus WK berharap agar industri golf di Indonesia terus menggeliat sehingga orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari industri ini juga bisa mendapatkan manfaat.

(Tulisan dan foto oleh Toto Prawoto)