WALAUPUN belum ada data rujukan tentang peningkatan jumlah pegolf sejak Covid 19 melanda warga dunia termasuk di Indonesia hingga virus tersebut berlalu, namun pasca pandemi tersebut berakhir muncul wajah-wajah baru atau debutan baru di percaturan olahraga golf nasional terutama dan khususnya mereka yang menggeluti olahraga golf sebagai olahraga prestasi.
Ketika masalah tersebut Media GolfJoy utarakan dalam perbincangan bersama Adi Saksono, Ketua Bidang Pertandingan dan Prestasi PB PGI, mengungkapkan bahwa hal itu tentunya sangat baik.”Karena tugas kita di PB PGI adalah mengembangkan olahraga ini dan membina pemain agar bisa lebih baik,” katanya.
“Apalagi,” ujar Ketua Bidang Pertandingan dan Prestasi PB PGI lebih lanjut, “saat ini dunia golf memiliki ranking dunia, dan ditambah event di Indonesia semakin banyak yang mengadopsi WAGR Counting.”
“Jadi ini pasti rujukan yang valid untuk menilai kemampuan seorang atlit. Dan, junior sekarang ini pun secara skill sudah sama dengan seniornya. Hanya mungkin jam terbang akan menentukan mental bertanding yang lebih baik dan matang .. Itulah mengapa, saat ini pemain junior sangat mungkin untuk bertanding menjadi pemain timnas.
Menjawab pertanyaan terkait dengan adanya para debutan baru yang bermain dengan skor “kepala” tujuh, Adi Saksono langsung menyahut: “Bukan hanya kepala 7, karena beberapa pemain junior pun sudah bermain under par.”
Adi menyebut nama Rayhan A Latief sebagai contoh. Dua tahun lalu Rayhan ketika masih umur junior, sudah dipanggil untuk bergabung di Timnas Sea Games, dan terbukti bisa bermain sangat baik dan membawa pulang medali.
“Contoh lain William Justin Wijaya di event Medco Amatir, tiga hari bermain mencetak skor 9 under .. Bahkan Randy menjadi juara event Medco Amatir setelah mengalahkan William melalui play off.”

“Kemudian ada Jayawardana. Di Thailand sekalipun dia tidak ikut bertanding.Tapi, di Kanada dia merebut gelar Runner Up dengan skor under. Hal tersebut tentunya prospek yang sangat bagus .. Artinya regenerasi berhasil dijalankan dan tidak menutup kemungkinan bisa lebih baik dari kakak seniornya saat ini.
Menjawab pertanyaan saat ini ada berapa pegolf debutan baru tersebut, baik putra maupun wanita, Adi mengungkapkan bahwa jumlah pemain di bawah usia 17 tahun yang tergabung di Timnas ada 9 orang. Mereka terdiri dari 5 putra yakni William Justin, Jayawardana, Kenneth Henson, Jordan Marcello dan Asrafa. Sedangkan empat orang putri terdiri dari Thea Tan, Gemilau Joane, Abigail dan Maureen Yosse.
Mengenai kerjasama antara Bidang Pertandingan dan Prestasi PB PGI dengan para orangtua para pegolf, menurut Adi bukan kerjasama, karena orangtua di Indonesia masih tetap berada di puncak untuk mendidik dan membina putra-putri mereka.
Dan, layaknya olahraga lain yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah, segala biaya tetap yang tertinggi adalah dari orangtua atlit itu sendiri.
“Saat ini yang bisa kami lakukan hanya bisa berusaha berkomunikasi yang baik dengan para orangtua pegolf .. Juga berkordinasi dengan mereka ketika ada event nasional dan event internasional yang diikuti oleh putra-putri mereka,” ujar Adi Saksono.
Terlepas dari masalah tersebut, yang jelas pada Oktober lalu debutan baru di Timnas tersebut tampil dalam event Asia Pacific Championship by R&A di Dubai, dan Kenneth tampil dalam event tersebut atas undangan R&A.
Selain itu, para debutan baru di Timnas juga tampil dalam event Asian Youth Games di Dubai. Mereka adalah William, Jayawardana dan Theo Tan.
PELATNAS & SPONSORSHIP
Menjawab pertanyaan tentang masih perlukah Pemusatan Latihan (Pelatnas), tanpa basa-basi, berterus terang dan lugas Adi Saksono mengungkapkan bahwa seharusnya pelatnas selalu ada, tidak dilakukan hanya dalam hitungan satu atau dua bulan, mengingat yang terkandung dalam pelatnas terdapat latihan fisik dan mental di mana kedua hal ini sangat tidak mungkin didapatkan dalam waktu yang relatif singkat, karena kedua hal tersebut bukan hal yang instan untuk didapatkan.
“Contoh negara tetangga kita Thailand. Mereka punya National Camp Center tempat di mana pegolf mereka selalu dikumpulkan dua bulan sekali. Mereka membina 15 atlit nasional putra dan putri. Setiap 2 atau 3 bulan sekali mereka berlatih di National Camp Center.”
“Sementara Indonesia baru bisa menjalankan pelatnas ketika akan ada event Sea Games, Asian Games atau Asian Youth Games .. Jadi, kita sebagai pengurus harus berfikir keras untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal dari sumber daya yang terbatas.”
“Jadi, kalau saya ditanya masih perlukah pelatnas, jawaban saya masih .. Walaupun singkat dan kurang ideal. Kenapa? Karena bagaimanapun juga yang namanya kumpul bersama-sama akan menciptakan energi yang sangat baik untuk masing-masing pemain dan juga pengurus.”
“Selain disupport oleh orangtua, apakah di antara mereka juga ada yang mendapat support dari sponsorhip?” tanya Media GolfJoy.
“Sampai saat ini di amatir belum ada sponsor yang benar-benar sebagai sponsor, Mas,” sahut Adi, cepat. “Yang ada sekarang hanya mensupport equipment dan aparel-nya anak-anak saja .. Meringankan memang buat orangtua. Tapi, seharusnya akan lebih baik jika bisa ditingkatkan lagi.”
“Maksudnya?” tanya Media GolfJoy.
“Contohnya lapangan memberi fasilitas untuk atlit jadi lebih banyak .. Apalagi sarana driving range, karena anak-anak kita yang tergabung di Timnas mutlak harus berlatih setiap hari,” kata Adi Saksono mengakhiri perbincangannya bersama Media GolfJoy.
Penulis Toto Prawoto
Foto Dokumentasi
