Sempat masygul karena membeli satu set stik golf bekas dari rekannya seharga Rp 25 juta, Direktur Teknik PT Tugu Kresna Pratama, Ir. Muslihun, M.si, AAIK, QIP, AIIS, kini kerap mencuri-curi waktu untuk bermain golf.

Mus, panggilan akrab Muslihun, pertama  kali main golf pada 2009 setelah membeli satu set stik golf Titleist bekas dari rekannya, Kemas A. Yani yang kini menjabat Direktur Pemasaran PT Tugu Kresna Pratama, seharga Rp 25 juta. Meski sempat curiga dengan harga semahal itu, Mus membeli juga stik tersebut. Setelah dicek ke pasaran, ternyata harganya “cuma” Rp17 jutaan. Mus pun menanyakan kepada Yani kenapa harganya bisa semahal itu. “Karena, kata Pak Yani, satu set stik itu sudah banyak pengalaman di turnamen baik dalam maupun luar negeri,” kata Mus tertawa. Namun ia tak menyesal membelinya karena dia malah makin suka bermain golf. Lagipula Mus berhasil menjual kembali stik itu ke teman lain yang baru bermain golf seharga Rp 20 juta.

Mus mengaku dia sering kalah di golf bareng (gobar) sehingga banyak keluar uang. Namun, hal ini tak menyurutkan semangatnya dalam bermain golf. Kegigihan pegolf handicap 21 ini membuahkan hasil dengan meraih gelar Best Nett 1 kejuaraan golf Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI). Dia pun bercita-cita menjuarai Match Play Persatuan Golf Asuransi Indonesia (PGAI) dan mengenakan jaket hijau kebanggaan seperti yang telah dicapai A. Yani. [Mus mengenakannya untuk sesi foto].

Selama hampir 30 tahun berkecimpung di dunia asuransi, Mus mengaku menyesal terlambat mengenal golf. “Mestinya saya bermain golf lebih awal lagi karena ternyata dunia golf ini memiliki peluang bisnis yang lebih luas. Kita jadi punya mitra bisnis yang lebih banyak,” kata Mus. Karena itu pencapaian kariernya di bisnis asuransi ini tak terlepas dari golf. Mus ingin selalu memanfaatkan tiap kesempatan untuk bermain golf. “Saya jadi sering mencuri-curi waktu untuk bermain.”

Dia melihat ada kesamaan antara asuransi dan golf. “Kesamaan antara golf dan bisnis asuransi terutama dalam hal mengelola risiko, kita harus memperhitungkan segala risikonya sebelum memukul. Jangan terbawa nafsu, meskipun sebenarnya saya sering nafsu memukul jadinya bola mendarat di tempat tak diinginkan,” kata ayah dari tiga anak ini. Karena itulah perlu kehati-hatian dan kesabaran dalam menyiapkan pukulan. Dalam bisnis asuransi faktor kehati-hatian ini sangat penting. “Contohnya dalam pengelolaan risiko dari proyek yang besar kita tidak bisa sendirian. Kita harus berbagi risiko dengan cara me-reasuransikan,” kata Mus. Permainan ini mengajarkan prinsip kesabaran dan kehati-hatian dalam mengelola risiko.


Lahir Lumbandolok, 11 Maret 1966, Muslihun menjabat sebagai Direktur Teknik PT Asuransi Tugu Kresna Pratama sejak 28 September 2017. Mus menempuh pendidikan di Strata 1 Agribisnis Institut Pertanian Bogor dan Strata 2 MSi di Universitas Indonesia.

Beberapa posisi yang pernah dijabat sebelumnya: Senior Manajer Operasional di PT Asuransi Binagriya Upakara (1999 – 2002), Kepala Cabang PT Asuransi QBE Indonesia di Bandung (2002-2004), Kepala Divisi Teknik PT Fadent Mahkota Said (2004 – 2008) dan PT Asuransi Berdikari sebagai Direktur Teknik (2010-2013), Senior Manager Marketing (2013-2014) di PT Asuransi Bosowa Periskop, General Manager PT Asuransi Videi (2014-2016) , Technical Advisor PT Asuransi Tugu Kresna Pratama (2016-2017).