Golf tak terpisahkan dari dokter gigi Surya Syah. Di sela-sela kesibukannya mengurusi gigi geligi, pria berusia 59 tahun ini selalu punya waktu untuk bermain golf. Sampai-sampai ada temannya yang berseloroh bahwa Surya Syah berprofesi sebagai pegolf, praktik dokter gigi hanya sebagai hobinya. Sangkaan ini tentu saja ia tolak. Kepada GolfJoy, drg Surya Syah bercerita bagaimana dia mengenal golf dan peran permainan ini dalam membantu pekerjaannya.

******

Saya sudah mengenal golf cukup lama, sejak SMP di Medan. Ayah saya yang saat itu bekerja di Pertamina memperkenalkan golf kepada Surya Syah muda. Banyak karyawan Pertamina yang bermain golf karena Pertamina punya lapangan sendiri.

Ironisnya, ayah saya sebenarnya tidak suka golf karena dia pernah cedera setelah melakukan pukulan golf yang grounded.

Di Pertamina banyak juga junior golfer yang aktif. Saya ikut belajar bersama mereka. Saya berlatih golf dari SMP sampai SMA di sana.

Saat kuliah di Jakarta saya tidak bermain golf lagi. Saya berkesempatan main golf lagi saat pulang ke Medan dua kali setahun.

Saat memulai praktik kedokteran gigi saya malah vakum golf lebih lama lagi, kira-kira 10 tahun. Saya kembali memainkan stik golf setelah bertemu salah saeorang pasien saya, yang kebetulan dia mendapat nomor antrean terakhir. Dia mengajak saya makan seusai praktik, lalu sambil ngobrol dia mengajak saya main golf. Saya menerima ajakannya dan akhirnya saya kembali ketagihan main golf. Saya memulai kembali permainan ini di lapangan golf Sawangan karena dekat dengan tempat tinggal saya di Pamulang. Kebetulan lapangan ini ada kolam renangnya, jadi kami berdua bermain golf,  sementara istri masing-masing dari kami berenang.

Tahun 2017 menjadi tahun dukacita bagi saya dan keluarga karena pada tahun itu istri saya meninggal saat saya sedang bermain di Sentul Highland. Sejak itu saya tidak mau main golf lagi. Saat saya larut dalam kesedihan itu ada seorang teman, dokter gigi juga, yang mengajak saya untuk kembali bermain golf lagi. Akhirnya saya pun masuk ke klub golf untuk pegolf senior seperti Perpesi, ASGA.

Bagaimana membagi waktu antara profesi saya dengan bermain golf? Teman saya pernah meledek bahwa saya berprofesi sebagai golfer dan memiliki hobi sebagai dokter gigi. Memang, golf tidak bisa dipisahkan dari saya lagi. Namun, saya berpraktik berdasarkan perjanjian dengan pasien. Jadi saya bisa atur sendiri waktu bermain saya yang sesuai.

Golf mengajarkan kita kesabaran. Kita harus konsekuen dan jujur. Permainan ini mengajarkan kita untuk menjaga emosi kita, ini penting diterapkan di tempat kerja kita.  Bagaimana teknik saya menyuntik, bagaimana saya memeriksa orang dengan sabar. Hal-hal seperti ini kita bisa latih di golf. Bahkan, seorang pasien saya pernah berkata,”Dokter, kamu menyuntik seperti putting, smooth sekali tak terasa sakitnya.”

Saya juga punya hobi lain, yakni memancing di laut. Sama seperti golf, aktivitas ini juga melatih kesabaran kita. Bagaimana kita menunggu berjam-jam seperti orang goblok untuk mendapatkan ikan di kail kita.

Bermain golf harus dilakukan terus-menerus atau kontinu. Saya sudah mengenal golf sejak stik wood masih berupa wood (kayu) berbahan persimmon. Saya masih punya stik itu. Kalau tidak salah tahun 1977 saya memainkan stik itu. Pialanya pun saya masih menyimpannya dan sudah menghitam. Saya mendapat hadiah dari mantan gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto yang saat itu di Medan menjabat Pangkowilhan 1 Sumatera-Kalimantan.

Sebenarnya saya tidak ada niat untuk menjadi dokter gigi. Kakak saya sudah menjadi dokter umum. Saya malah bercita-cita ingin menjadi ahli geologi karena saya ingin masuk ke Pertamina seperti ayah saya. Perusahaan ini membutuhkan banyak sarjana Geologi, maka itu saya ingin kuliah di jurusan ini. Saat saya di Bandung saya aktif di berbagai kegiatan olahraga seperti sepak bola, golf, bulu tangkis dan juga banyak mainnya. Akhirnya saya sakit dan tidak bisa ikut ujian masuk Geologi. Saya pun dipulangkan ke Medan oleh ayah saya yang menyarankan agar saya mengulang tahun berikutnya. Saya berkukuh ingin masuk kuliah saat itu. Ayah menawarkan kuliah di kedokteran gigi dan saya langsung terima. Akhirnya saya kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Bagi saya, tidak ada istilah salah pilih jurusan. Jika ada kemauan pasti ada jalan. Saya tidak mau mengecewakan orangtua yang sudah mengeluarkan duit banyak untuk pendidikan anaknya.


Dokter Gigi Surya Syah membuka praktik di Ruko Pamulang Permai XII/2, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

Surya Syah menjalankan praktek dokter gigi profesional dengan perjanjian, yang bisa dihubungi di nomor 08161182704 untuk mendapatkan jadwal berkunjung sebelum datang.