FeaturedKomunitas

GCMAI: Lapangan Golf Perlu GM yang Membumi untuk Keberlanjutan Bisnisnya

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang peralatan pemeliharaan lapangan golf para general manager diharapkan mampu memberikan keputusan strategis demi meningkatkan kepuasan para pegolf dan keberlanjutan bisnis ini.

Golf Club Managers Association of Indonesia (GCMAI) menyelenggarakan seminar bertajuk Golf Maintenance For GM “Grounded Leadership: Turf & Equipment Mastery For The Visionary GM” di Leuweung Geledegan Ecolodge & Salak Golf Tamansari Bogor, Kamis (19/6). Narasumber acara ini adalah Rina Maharani (Ketua GCMAI), Achmad Zakaria (Ketua Asosiasi Superintendent Padang Golf Indonesia/ASPGI), Gareth Knight (ahli peralatan pemeliharaan lapangan golf) dan Qamal Mutaqin (praktisi pemeliharaan lapangan golf).

Rina Maharani mengatakan acara ini merupakan bagian dari komitmen GCMAI dalam mendukung peningkatan kapabilitas general manager dalam pengelolaan lapangan golf modern.

“Pastinya ini kan memang menjadi program dari GCMAI di bidang pendidikan. GCMAI ingin meningkatkan kompetensi dari para general manager lapangan golf di Indonesia. Tentunya kalau misalnya GM-nya pada pintar, pemahamannya juga bagus, pemainnya juga tambah banyak. Intinya kita membuat semua program edukasi untuk GM yang bermanfaat,” kata Rina Maharani di Bogor, Kamis (19/6).

Rina mengatakan tema yang diangkat Grounded GM atau GM yang membumi berarti GM yang mau mendengar sebelum memutuskan.

“Setiap mesin punya suara, apakah itu green mower, fairway mower, sprayer, aerator, utility vehicle dll. Mereka bekerja keras tapi sering terabaikan sampai rusak. Mereka tidak selalu kelihatan, tapi vital.

“Turf equipment memang tidak berbicara, tapi keheningannya tidak boleh diabaikan,” kata Rina.

Rina menekankan bahwa grounded GM itu bukan GM yang paling tahu, tapi yang paling ingin tahu. Bukan yang paling teknis, tapi yang tahu cara bertanya, mendengarkan dan bertindak tepat. 

“Grounded GM adalah GM yang hadir saat turf equipment ‘berbisik’,” tambah Rina.

Rina menambahkan acara ini juga diharapkan menjalin komunikasi lebih baik antara GCMAI dan ASPGI.

“Memang ini program GCMAI, kita juga ingin nih, ada ASPGI kan, bagaimana komunikasi dua asosiasi ini menjadi juga lebih baik. Kalau komunikasinya baik, kerja juga enak. Kemudian kita juga ingin para GM itu bisa mengambil suatu keputusan, tidak hanya berdasarkan insting, tapi karena dia paham, karena dia tahu. Mungkin bukan hanya masalah mesin aja sih, masalah yang lain juga. Tapi ini salah satunya adalah sampel bagaimana seorang GM harus bisa mengambil keputusan strategis berdasarkan paham, berdasarkan data,” tambah Rina.

Jumlah pesertanya mencapai 56 orang.

“Kita targetkan 50 orang, yang daftar 56. Banyak dari luar kota juga, saya senang banget. Jadi ada dari Batam, kemudian ada dari Bali, Surabaya, kemudian dari Bandung juga ada. Sebagian besar memang dari Jabodetabek,” ujar Rina.

Sementara itu, Achmad Zakaria menjelaskan jumlah dan jenis peralatan yang dibutuhkan untuk memelihara lapangan golf itu tergantung kepada kondisi geografis lapangan.

“Jadi apakah lapangan itu berada di pegunungan yang memiliki kontur yang ekstrim atau lapangan itu berada di perkotaan yang kering dan lebih datar itu akan mempengaruhi jumlah dan jenis alat yang dibutuhkan,” kata Achmad.

Termasuk juga desain lapangan. Ini juga sangat berpengaruh terhadap penentuan jumlah dan jenisnya alat. Fasilitas golf yang diinginkan juga berpengaruh terhadap penentuan alat.

“Berapa budgetnya dan juga ekspektasi owner dan pemain terhadap kondisi lapangan kita,” tambah Achmad.

Narasumber lain Gareth Knight menyoroti konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yakni konsep pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. 

“Ini berarti pembangunan harus mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan, serta memastikan bahwa sumber daya alam dan ekosistem dapat terus berfungsi dengan baik untuk jangka panjang,” kata Gareth yang menjabat Regional Sales Manager Southeast Asia perusahaan Toro.  Toro adalah perusahaan Amerika yang mendesain, memproduksi, dan memasarkan mesin pemotong rumput, mesin peniup salju, dan perlengkapan sistem irigasi untuk keperluan komersial dan perumahan, pertanian, dan sektor publik.

Menurut Gareth, Toro selalu mempertimbangkan tiga hal penting dalam operasionalnya, yakni keinginan lapangan golf, pengelolaan lingkungan secara etis dan bertanggung jawab, serta keuntungan finansial.

“Kami menjaga keseimbangan yang sesuai dengan strategi jangka panjang lapangan golf,” kata Gareth.

Sebagai seorang praktisi pemeliharaan lapangan, Qamal menekankan pentingnya pemilihan peralatan yang tepat sebagai bentuk investasi yang lebih cerdas (smarter Investment).

“Dalam pemilihan alat, ada empat hal yang perlu dipertimbangkan, yakni kualitas alat, ketersediaan di pasaran, kecocokan dengan jenis rumput, topografi dan desain lapangan serta harga,” kata Qamal.

Untuk menjaga kinerja pemeliharaan lapangan Qamal menyarankan untuk pembelian peralatan baru dalam skala lima tahunan atau investasi peremajaan peralatan setiap tahun.

Related posts

Yuka Saso Raih Gelar U.S. Women’s Open Kedua

Hasim

Perkumpulan Golf Bandung Gelar Gobar Ngabuburit dengan Gaya Unik

Toto Prawoto

Rickie Fowler, Matthew Wolff Tetap Optimistis Meski Underdog

Hasim

Leave a Comment

2 × 1 =