Sejumlah atlet terkenal Jepang, termasuk juara Masters Tournament Hideki Matsuyama dan petenis wanita top Naomi Osaka, bergabung dengan 350.000 orang lainnya menandatangani petisi yang mengkritik pemerintah Jepang untuk mengadakan Olimpiade Tokyo, meskipun gelombang keempat infeksi COVID-19 melanda Negeri Matahari Terbit tersebut.

Petisi yang diteken pada hari Jumat (14/5/2021) diajukan kepada ketua panitia Olimpiade dan Paralimpiade serta Gubernur Tokyo Yuriko Koike.

Pengurus Kampanye “Stop Tokyo Olympics” Kenji Utsunomiya mengatakan bahwa festival olahraga global tersebut seharusnya hanya diselenggarakan pada saat Jepang sudah siap untuk menyambut pengunjung dan atlet secara keseluruhan.

“Kita belum berada di situasi [dimana COVID-19 terkendalikan di Jepang], sehingga Permainan [Olimpiade] harus dibatalkan,” ujarnya dalam konferensi pers. “Sumber daya medis yang berharga akan terpaksa untuk dialihkan ke Olimpiade jika hal ini diadakan.”

Petisi ini diajukan pada saat Jepang menambahkan tiga wilayah lagi ke keadaan darurat. Kini, keadaan darurat tersebut berlaku kepada prefektur Tokyo, Osaka, dan empat prefektur lainnya akibat lonjakan jumlah kasus, persis sepuluh minggu sebelum pembukaan Olimpiade pada tanggal 23 Juli mendatang.

Menanggapi kampanye untuk membatalkan Olimpiade, Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengatakan bahwa beliau akan bekerja menuju kepada Olimpiade yang “aman dan nyaman”.

“Meskipun ada pandemi global, penyelenggaraan Olimpiade Tokyo [2021] yang aman dan nyaman adalah suatu hal yang penting,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers.

Selain dari kampanye “Stop Tokyo Olympics”, kritik terhadap penyelenggaran Olimpiade juga muncul dari dokter dan beberapa atlet Jepang terkenal, seperti juara golf Masters Hideki Matsuyama dan superstar tenis Naomi Osaka.

Selanjutnya, beberapa tokoh bisnis Jepang, seperti CEO Softbank Group Masayoshi Son, menunjukan kekhawatirannya terhadap rencana Olimpiade Tokyo tersebut. Son mengujar bahwa beliau takut terhadap apa yang akan terjadi jika Pertandingan terus berjalan.

Selain itu, lusinan kota yang sebelumnya berencana untuk menjadi tuan rumah para atlet yang berkunjung untuk acara pra-Olimpiade telah membatalkan rencana tersebut. Juru bicara kota-kota tersebut mengatakan mereka tidak dapat menjamin bantuan medis di tengah tekanan pada sistem kesehatan.