Sebelum aktif berkecimpung meliput kegiatan olahraga golf seperti sekarang, sebagai penulis lepas di beberapa media (surat kabar dan majalah) yang terbit di Ibukota, penulis relatif sering bertemu dengan Mas Koes (sapaan yang sering diucapkan rekan-rekan wartawan kepada mendiang Koes Hendratmo).

Sebelum penulis aktif sebagai penulis lepas atau free lancer di mass media yang terbit di Ibukota, penulis hampir setiap sore melihat Mas Koes berjalan menyusuri Jalan Bulungan – Kebayoran Baru, Jakarta yang mendorong kereta baby.

Karena, penulis bersama sahabat lainnya (Noorca M Massardi, Yudhistira Ardi Noegraha, Adri Darmaji Woko, Tinno Saroengallo dan yang lainnya) – menjadikan Gelanggang Bulungan Jakarta Selatan sebagai base camp.

Perlu diketahui bahwa tempat tinggal Mas Koes pada saat itu memang di Kebayoran Baru — tidak jauh dengan SMAN IX dan SMAN XI yang sekarang dikenal sebagai SMAN 70 Kebayoran Baru, Jakarta, di mana kedua sekolah tersebut berada di jalan yang sama yakni Jalan Bulungan.

“Selamat sore ..,” sapa Mas Koes kepada penulis dan teman lainnya yang duduk-duduk santai di halaman pintu gerbang bagian seletan Gelanggang Bulungan. “Sudah selesai latihannya,” lanjut Mas Koes.

“Belum Mas .. Om,” jawab penulis dan yang lainnya tidak serempak – karena ada yang menyebut ‘Mas’ dan ‘Om’.

Ketidak-serampakkan tersebut bisa dimaklumi, karena usia penulis dan teman lainnya sangat beragam: ada yang baru satu-dua tahun lulus SLTA, ada yang masih aktif kuliah di universitas baik negeri maupun swasta yang ada di Jakarta, dan ada juga yang masih duduk di bangku SLTP serta SLTA.

“Mari teman-teman .. adik-adik .. Selamat berlatih,” lanjut Mas Koes sambil mendorong kereta baby menuju bundaran yang dikenal sebagai “Bundaran Ayam Bulungan” – kemudian belok ke kanan menuju jalan kembali ke rumahnya yang lokasinya tidak jauh dari Gelanggang Bulungan. Dan, penulis beserta teman lainnya kembali ke auditorium Gelanggang Bulungan untuk berlatih atau olah vocal untuk kepentingan pentas teater.

RASANYA KITA PERNAH JUMPA

Seiring dengan berjalannya waktu, pada suatu kesempatan penulis yang sudah berstatus sebagai wartawan tetap di majalah khusus kaum perempuan pimpinan Titie Said – mendapat tugas untuk mewawancarai Koes Hendratmo yang pada saat itu dikenal sebagai pembawa acara Berpacu Dalam Melodi yang dirancang Ani Sumadi dan disiarkan oleh TVRI.

Saat saya sampai di kediamannya di salah satu jalan di Tebet Jakarta Selatan, setelah pintu halaman dibuka oleh seorang wanita (kemudian wanita tersebut diketahui bernama Mbak April yang tidak lain adalah isteri Koes Hendratmo), dari mulut Mas Koes terucap kata:
“Rasanya kita pernah jumpa yaaa .. Tapi di mana yaaa??”

Penulis langsung menyahut: di Gelanggang Bulungan Jakarta Selatan.

Singkat cerita pertemuan yang terkait dengan keberadaan penulis yang telah menyandang status sebagai wartawan — berubah tak ubahnya seperti bernostalgia. Mbak April sendiri pun akhirnya ikut larut dalam suasana yang sangat kental dengan nuansa nostalgia tersebut. Apalagi setelah dari ruang dalam (pada saat penulis berbincang dengan Mas Koes beserta Mbak April memang berlangsung di teras rumahnya) muncul seorang gadis cilik berusia tujuh tahunan — suasana pun berubah penuh warna.

“Dia ini adalah baby yang selalu saya ajak jalan-jalan sekitar yang tak jauh dari rumah ..,” ujar Mas Koes sambil memeluk mesra putrinya.

Karena “atmosfir” wawancara berubah menjadi nuansa nostalgia, maka pertemuan antara penulis dan Mas Koes menjadi sangat akrab dan terkesan tanpa jarak dan sekat. Bahkan kami bergantian “saling menginterview”.

“GRAPYAK DAN SEMANAK”

Bukan rahasia umum lagi bahwa pekerjaan seorang jurnalis memang suka pindah-pindah tempat.

Yang jelas, ketika “asyik” bekerja tetap di media cetak khususnya majalah – dari majalah anak-anak, remaja hingga majalah keluarga – suatu hari ada seorang rekan yang mengajak saya untuk bergabung di majalah Golfer — majalah khusus olahraga golf pertama di Indonesia di era Orde Baru di mana PB PGI berada di bawah pimpinan Soedomo (pak Domo).

Dengan banyak bertanya dan belajar kepada para penentu kebijakan di percaturan golf di Indonesia pada saat itu, penulis langsung ditugaskan untuk meliput pembangunan lapangan golf (saat itu memang sedang booming pembangunan lapangan golf) yang penanaman rumput pertamanya dilakukan oleh pak Domo dan si perancang yang namanya terkenal ke seluruh dunia.

Seiring dengan berjalannya waktu, penulis sebagai peliput kegiatan golf di Tanah Air pun akhirnya sering berjumpa dengan Mas Koes — baik saat Fella Golf Jakarta (almarhum adalah salah satu anggotanya) menyelenggarakan event maupun saat komunitas golf lain menyelenggarakan kegiatan yang sama. Mas Koes selain tampil di lapangan juga tampil di panggung sebagai MC sekaligus sebagai penyanyi.

“Lhahhh .. ternyata dunia ini sempit, ya?!” kata Mas Koes ketika dalam suatu kesempatan bertemu dengan penulis — saat dia tampil memandu acara golf charity baik yang diselenggarakan oleh Fella Golf Jakarta maupun perkumpulan lainnya yang tersebar di kawasan Jabodetabek.

Sebagai priyayi Jawa, Mas Koes memang dikenal sangat Grapyak dan Semanak terhadap siapa pun. Saking ramahnya (Grapyak dan Semanak), setiap kali penulis meliput event golf dan berjumpa Mas Koes — baik kehadirannya dalam event tersebut sebagai peserta turnamen maupun hadir sebagai MC sekaligus penyanyi — Mas Koes selalu menyapa penulis terlebih dulu baik hanya sekadar lewat lambaian tangan disertai senyum khasnya – maupun menyapa langsung dengan menggunakan bahasa Jawa.

Yang jelas, meski kehadirannya dalam sebuah event yang diikutinya sesuai dengan kapasitas sebagai pegolf dari Fella Golf Jakarta, namun ketika MC golf memintanya untuk menyumbangkan lagu Mas Koes segera bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju panggung untuk menyumbangkan satu dua lagu. Dan, ketika suara Mas Koes yang merdu mengalun memenuhi Club House hadirin terpaku – diam sambil ikut menyanyi dalam hati.

Setelah Mas Koes usai menyanyikan sebuah lagu — terdengar tepuk tangan dan teriakan-teriakan datar:
“Lagi-lagi ..!!”

Namun, suasana seperti itu takkan terdengar dan terlihat lagi, karena pada Selasa 7 September 2021 — si pemilik suara merdu yang grapyak dan semanak telah pergi menghadap Sang Khalik

SELAMAT JALAN KOES HENDRATMO

… menyusul sang isteri yang lebih dahulu menghadap Sang Khalik 100 hari yang lalu ..


Cing Cing Suharsono
KAMI SUDAH SEPERTI KELUARGA

Itulah kalimat pembuka dalam perbincangan GolfJoy dengan Cing Cing Suharsono – juga salah satu anggota perkumpulan Fella Golf Jakarta.

“Kalau Fella ke luar negeri pasti kita ajak beliau bersama istrinya .. Kami bersama-sama pernah ke Jepang dan Bangkok .. Juga ke Bandung dan Malang,” Cing Cing menuturkan.

“Jadi, kalau Fella ke luar negeri atau luar kota, para istri pun ikut serta. Sehingga, para istri sangat dekat dengan mBak April – istri mas Koes,” tambah Cing Cing.

“Dan, setiap kali mas Koes ikut, beliau selalu menyumbangkan lagu dengan suaranya yang khas, merdu, berat — saya dan istri juga hadir saat mas Koes merayakan HUT-nya yang ke-77 tahun 2020,” kata Cing Cing menambahkan.

Mengakhiri keterangan tertulisnya, kepada GolfJoy Cing Cing mengungkapkan bahwa pihaknya secara pribadi, Fella, teman-teman golfer lain .. Juga bangsa Indonesia kehilangan sahabat, kehilangan seorang penyanyi hebat. Seorang presenter hebat.

“Selamat jalan saudaraku, mas Koes. Semoga Tuhan menyediakan tempat yang layak bagimu saudaraku sesuai amal ibadahmu …”

(Penulis Toto Prawoto & Foto Dokumentasi Cing Cing)

DOWNLOAD E-MAGZ GOLFJOY TERBARU GRATIS!

GolfJoy Cover