Ngobrol bersama pria kelahiran Malang – Jawa Timur tahun 1967 ini, sungguh sangat mengasyikan. Karena, proses kehidupan yang dilakoninya sebagai pegolf patut dijadikan contoh.
Sahid mengawali karirnya sebagai pekerja lapangan di golf course Karang Kates — Bendungan Sutami — sejak masih berusia belasan tahun.
Banyak suka dan duka yang dilaluinya, karena dia juga harus bisa membagi sekaligus mengatur waktu antara sekolah dan pekerjaannya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, pada 1982 Sahid hijrah ke Surabaya ikut tinggal bersama Kasmo — seorang Profesional Golfer — dan dia bekerja di Yani Golf Surabaya hingga 1996.

Sebagai pekerja lapangan yang juga aktif mengikuti turnamen golf amatir, Sahid pernah tampil memperkuat tim golf Jawa Timur pada PON 1996 – 2000.
Seperti pegolf amatir lainnya di Indonesia, usai memperkuat daerahnya di PON Sahid menanggalkan statusnya sebagai pegolf amatir dan beralih status menjadi Pro pada tahun 2000.
Selain aktif di kancah persaingan golf Pro dia juga menekuni profesi sebagai Teaching, dan Sahid telah banyak “mencetak” pegolf amatir — baik dari kalangan pegolf prestasi maupun reguler.
PELATIH TIM GOLF PON JATIM
Karena track record yang ditorehkannya dalam hal “mencetak” pegolf prestasi serta reguler terutama dan khususnya di Jawa Timur sangat positif dan banyak pihak yang mengapresiasinya, maka sesuatu yang wajar apabila dalam perjalanan karirnya Sahid pun mendapat kepercayaan dari Konida Jawa Timur untuk melatih atlet golf yang akan tampil di ajang PON Kaltim pada tahun 2008, PON Riau tahun 2012 dan PON Jawa Barat pada tahun 2016.
Dia juga tetap dipercaya untuk melatih Tim Golf PON Jatim yang akan tampil di Papua pada tahun 2020. Sayang sekali PON 2020 di Papua cabang olah raga tidak dipertandingkan.
Seperti kita ketahui bahwa menjelang PON 2008 di Kaltim akan bergulir di mana Sahid untuk pertama kalinya turun sebagai pelatih, terjadi ke-“heboh”-an.
Karena, pegolf asal Jawa Timur yang bernama Benny Kasiadi “pindah” dari Jatim ke Kalimantan Timur.
Untuk masalah yang satu ini, Sahid — yang dijumpai di Pondok Indah ketika mendampingi anak didiknya tampil dalam event bertajuk MedcoEnergi Pondok Indah Golf Amateur Golf Tournament yang berlangsung di Pondok Indah Club beberapa yang waktu lalu — dia tidak bersedia menceritakan secara kronologi tentang masalah tersebut kepada Media GolfJoy.
Akan tetapi, terlepas dari masalah tersebut, yang jelas sejak terjadi peristiwa ke-“pindah”-an BK dari Jatim ke Kaltim muncul ke permukaan dan di exposes oleh media, nama Sahid banyak menjadi perbincangan di lingkungan komunitas golf di Republik ini.
Pasalnya, pada saat itu dia sangat “legowo” manakala salah satu atlet golf andalan Provinsi Jawa Timur “pindah” ke Provinsi lain pada saat setiap provinsi di NKRI sedang gencar-gencarnya melakukan persiapan atletnya dari berbagai cabang olah raga termasuk golf yang akan bertanding dalam annual event empat tahun sekali yang kita kenal dengan Pekan Olahara Nasional (PON) tersebut.
JOWI PUN PERNAH MENJADI ANAK DIDIKNYA
Sebagai Teaching Pro yang ber-home base di Taman Dayu Golf Club dan Ciputra Golf Club, ada beberapa atlet golf yang pernah dibimbing oleh Sahid.
Mereka antara lain Tirto Tamardi, Jonathan Wijono (Jowi) — yang sejak beberapa tahun lalu beralih status menjadi pegolf profesional — dengan torehan prestasinya yang banyak mengundang decak kagum dari para penggemar olah raga golf di Indonesia.
Tak hanya Tirto Tamardi dan Jonathan Wijono, salah satu anggota Timnas Golf Indonesia yang bernama William Justin Wijaya (beberapa waktu lalu tampil dalam event MedcoEnergi) pun berada di bawah bimbingan Sahid.
Bahkan tak hanya nama-nama tersebut di atas yang telah merasakan bagaimana sentuhan “tangan dingin” Sahid sebagai Teaching Pro; Salah satu pegolf putri asal Jawa Timur yang bernama Innes Wanamarta pun berada di bawah bimbingan Teaching Pro kelahiran Malang pada tahun 1967 tersebut.
Tentu banyak suka dan duka yang telah dialami Sahid khususnya yang terkait dengan kontribusinya kepada daerah asalnya sebagai pelatih yang telah “melahirkan” nama-nama yang cukup familier di kalangan penggemar olah raga golf di negeri tercinta ini.
“Wahhh .. nek dicerita’ke suka dukane awakku neng golf .. dowo banget critane .. Sewengi nutug ra-bakal rampung, Mas .. he he he …”
Sahid mengungkapkan dengan bahasa Jawa logat Jawa Timur-an sambil tertawa, yang artinya:
“Kalau diceritakan suka dukaku di golf .. panjang sekali kisahnya .. Semalam suntuk diceritakan takkan selesai, Mas …”
Dan, perbincangan bersama Sahid pun berakhir sampai di sini.
—
Penulis Toto Prawoto – Foto Dokumen Pribadi
